Ke Kahayya

Ada 0 Komentar

Ke Kahayya

Ada nama yang tak pernah sampai pada pendengaranmu. Dan begitu sampai, kau akan mengerutkan dahi, mencoba membayangkan pemilik nama itu, namun terus saja gagal. Lalu kau akancari tahu apa yang menarik di balik nama yang baru saja kau dengar. Kau akan bertanya lebih banyak seperti orang yang baru jatuh cinta.

Aku ingin menyebut satu nama yang bisa jadi baru pertama kali kau dengar. Nama yang bukan nama orang, tapi sebuah kampung paling ujung di sebelah barat Bulukumba, kampung yang belum cukup sedekade bercerai dari induknya agar bisa mandiri--bernapas sendiri. Kampung yang pernah aku jadikan judul cerpen di buku Lelaki Gerimis.

Ibuku lahir dan besar tak jauh dari kampung itu (tetangga dusun) sebelum menyingkir ke kota, yang di sebut kota kala itu, saat pasukan Kahar Muzakkar berkuasa, bukan kota seperti dikenal sekarang, tapi sebuah perkampungan yang telah dikuasai oleh tentara--pasukan pemerintah. Orang- orang pada waktu itu menamainya tempo panynyingkirang "waktu menyingkir" meninggalkan kampung tercinta, tempat ari-ari ditanam, tempat darah pertama tumpah.

Ibuku selalu mengenang kisah itu, saat gurilla 'pasukan gerilya' berkumpul di rumahnya untuk makan atau sekadar melepas lelah, minum kopi dengan senjatanya yang selalu siaga. Masa gerilya berkeliaran di kampung itu di sebut tempo gurilla.
                      *****

Tadi pagi, di awal tahun 2018, aku, Ayah dan Ibu kembali ke kampung itu, memanen buncis yang ditanam Ibu. Kampung yang kami tuju hari ini adalah Kahayya, dulu merupakan sebuah nama dusun, tapi setelah lepas dari induknya, Desa Kindang, Kahayya menjadi nama desa. Kahayya pasti terdengar asing di telingamu, bukan?

Kahayya berada di lereng gunung Bawakaraeng, desa itu kini menjelma tempat wisata  yang menarik banyak orang mengunjunginya.

Tempatnya paling ujung di Bulukmba, berbatasan dengan Sinjai yang hanya dibatasi sungai Balantieng, uang konon adalah sungai paling berani di antara beberapa sungai yang menyusu di gunung Bawakareang, sebab hanya sungai Balantieng yang berani sampai ke Kajang, yang tersohor itu. Bahkan memeluki Kajang.

Di sebelah barat Bulukumba, setidaknya ada empat sungai yang lumayan besar, sungai Bialo, Bijahang, Addungan, dan Balantieng. Pada perjalanannya Addungan dan Balantieng bergabung. Kahayya memiliki dua sungai itu. Addungan dan Balantieng, Addungan menjdi batas antara Desa Kindang dan desa Kahayya.

Dulu, sebelum Kahayya berdiri sendiri, kampung itu adalah kampung mati dan orang-orangnya selalu jadi lelucun jika ada orang yang "norak" orang-orang akan mengatakan padai tau kahayyya 'seperti orang Kahayya'

Setelah mekar, dan jalan mulai bagus. Orang-orang justru berbondong-bondong ke Kahayya yang menawan keindahan alamnya, bukit di kiri kanannya, ada danau kahayya, yang lebih dikenal dengan Lurayya, di ujung danau itu, kini telah dibuat kolam renang.  Sejak kolam itu ada, yang berdiri di dekat pohon beringin yang disakralkan, nuansa keramat pohon itu seakan pudar dan barangkali belut jinak yang biasa keluar dari mata air yang tak jauh dari beringin itu pun telah pergi. Belut itu biasa makan telur di tangan pengunjung. Konon ada pengunjung digigit tangannya, ia akan mendapat jodoh.
                   *****

Tadi pagi aku ke Kahayya, berjalan kaki, terlalu banyak yang berubah, selain jalan dan lurayya menjadi tempat wisata, di  Gamacayya ada baruntung tinggia 'air terjun yang tinggi'  ada air terjun permandian bidadari yang bersusun tiga. Ibu selalu menamainya panrio rioanna to sunrayya 'tempat mandinya orang yang tak kasat mata.' Kata Ibu, dulu sering terdengar suara orang mandi di air terjun yang bersusun tiga itu padahal tak seorang pun yang kasat mata hanya suara saja yang kedengaran.

Bukan hanya jalan yang berubah dan orang lebih banyak ke Kahayya, tapi juga perekonomian warga mulai meningkat, kopi, jagung dan sayur-sayuran menjadi andalannya

Dan yang mencengangkan sekaligus mengerikan, dulu sebelum di mekarkan, jika ada orang naik motor atau naik mobil ke Kahayya, orang-orang  akan kaget dan menjadi perbincangan. Sekarang (tadi pagi) ketika aku jalan kaki bersama Ibu dan Ayah, orang-orang kaget melihat kami jalan kaki. Jalan kaki ke Kahayya seakan telah menjadi tabu.

Satu lagi, jika ke Kahayya jangan lupa ke Donggia minum kopi, letaknya di ujung Kahayya. Di Donggia kau bisa melihat sungai Balantieng yang berani itu.

Kindang, 1 Januari 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Google+

Isi Blog