Vhy

Ada 0 Komentar
Harian Fajar, 8 November 2015Musim akan segera berubah. Ribuan kunang-kunang telah hijrah ke matanya. Itu tanda kemarau akan beralih ke musim basah. Tempat paling aman bagi kunang-kunang berlindung dari guyuran hujan adalah matanya. Di sana ada sebatang pohon yang rimbun—pohon cinta. Tapi tak mudah menemukan pohon itu. Tersembunyi cukup dalam dan rahasia. Belum ada yang mampu menembus rintangannya—sebuah labirin mencekam.

Memasuki matanya, sama saja memasuki ruang kematian yang tak kenal batas. Konon mata yang selalu dihijrahi kunang-kunang tiap jelang pergantian musim itu adalah mata perempuan. Dan perempuan itu senang menari bersama kunang-kunang. Tentu saja makhluk kecil berkelip itu akan riang menemukan tempat dan teman menari. Banyak orang mencoba menerabas ingin sampai ke matanya, tapi jatuh terpental dan gagal.

Sore beranjak ke senja. Dua lelaki, satu di antaranya bertubuh kurus masih berusaha menuntaskan tegukan terakhir kopinya. Percakapan mereka campur aduk, tapi berakhir pada satu arah. Perempuan yang di matanya membiak kunang-kunang.

“Aku pernah melihat perempuan itu menari, mungkin sedang menarikan tari pakarena. Tariannya gemulai, matanya berbinar, liukan tubuhnya lembut. Aku lupa berkedip ketika melihatnya menari,” jelas Busran, lelaki berkulit biji cengkeh yang telah dijemur. Lelaki kurus itu mendengarnya dengan takjub. Ia belum pernah menyaksikan seorang perempuan menari segemulai yang diceritakan Busran. Rasa penasarannya tumbuh—sangat subur.


 “Saat menari, kunang-kunang berhamburan dari matanya. Itu pementasan tari pakarena yang paling tak terlupakan,” lanjut Busran. Matanya kosong seakan menghadirkan kembali adegan tarian yang disaksikannya tersebut. Sejak Busran melihat tarian itu, ia jatuh cinta pada tarian. Tapi ia berkali-kali pula kecewa karena gagal menemukan tarian segemulai seperti yang pernah disaksikannya, dengan perempuan yang di matanya menghambur kunang-kunang.

 “Siapa nama perempuan itu?” tanya lelaki kurus tersebut.
“Tak ada yang tahu, orang-orang hanya memanggilnya, Vhy,” jawab Busran.

Percakapan itu berhenti. Senja datang terlalu cepat dan lelaki kurus tersebut harus pulang. Ia ingin menyaksikan kunang-kunang menari di antara pohon cengkeh. Dan ia ingin mengikuti kunang-kunang tersebut kemana pun pergi menyelamatkan dirinya dari musim basah. Jika benar pernyataan Busran, ada kemungkinan makhluk berkelip itu akan menuju ke mata perempuan penari tersebut.

Vhy, semalaman nama tersebut terus saja hadir dalam igaunnya. Ia berkali-kali terjaga. Besoknya, ia telat bangun. Matanya merah dan berkli-kali ia menguap. Ia menuju dapur—menyeduh kopi sendiri. Tapi sial baginya, gula telah habis. Tak ada jalan lain. Ia harus rela menyeruput kopi tanpa gul pagi itu. Saat ia menyeruputnya, bayangan ayahnya berlalu lintas. Ayahnya akan batu-batuk jika minum kopi yang bergula.

Suatu ketika, ada hajatan keluarga. Ayahnya menghadari hajatan tersebut dan disuguhi kopi yang telah menyatu dengan gula. Tak ada alasan untuk menolak. Ayahnya jadi tamu yang menghormati apa yang disuguhkan tuan rumah. Ayahnya tak ingin merepotkan atau dianggap pilih-pilih. Maka diseruputlah kopi tersebut. Dan sesampai di rumah, ayahnya batuk-batuk. Seminggu ayahnya tak bisa tidur karena batuk, hingga ia jatuh sakit. Kini ayahnya hanya terbaring lunglai di tempat tidur. Tubuhnya rapuh digerayangi batuk.

*****


Busran datang ke rumahnya jelang siang. Wajahnya kusut, sebatang rokok bertengger mengerikan di bibirnya—lupa dihisap.

“Semalam kunang-kunang bergerak ke arah sana,” ujarnya sambil menunjuk ke arah timur. Di mana awan sedang bertarung menghalangi matahari.
“Terus?” tanya kelaki kurus itu.
 “Mungkin akan menuju mata perempuan penari itu.”
 “Hahahahhaha jangan ngaco, Bus, tak mungkin ada kunang-kunang yang bisa tinggal di mata seseorang.” “Konon di matanya ada sebatang pohon yang rindang, tempat membiak kunang-kunang.” Lelaki kurus tersebut terperangah. Jadi benar cerita ayahnya, jika ada seeorang perempuan yang matanya dihuni kunang-kunang. “Iya, saya pernah dengar dongeng itu dari ayahku, tapi itu hanya dongeng.”
 “Itu bukan dongeng, bukankah kemarin saya ceritakan, saya pernah melihat perempuan yang di matanya menghambur kunang-kunang.”

Keduanya terdiam. Menerka berbagai kemungkinan. Mata lelaki kurus itu berbinar. Ide gila muncul di kepalanya. Tapi tak dibocorkannya kepada Busran. Ia ingin melakukan misi mustahil itu seorang diri.

Mengikuti kemana kunang-kunang tersebut hijrah. Ia telah bertekad akan mengikuti kunang-kunang tersebut sebentar malam ke arah sana, seperti yang ditunjukkan Busran tadi. Mungkin itu arah menuju Vhy, menuju matanya.

 ******

 Berkali-kali ia ta’buttu, malam terlalu pekat. Tak ada penerang, karena jika memakai obor atau senter kunang-kunang akan menghilang. Ia terus saja mengikuti rombongan kunang-kunang tersebut. Malam kian cekam tapi tak ada alasan berhenti. Jika berhenti ia akan kehilanga jejak. Semalam perjalanan terasa berat. Kakinya berdarah. Berkali-kali ia jatuh tapi tak menyerah. Ia ingin temukan dimana kunang-kunang tersebut membiak. Ia ingin buktikan apa yang diyakini ayahnya dan yang diceritakan Busran.

Rasa takutnya hilang, kian malam kerlipan kunang-kunang kian terang. Dan jelang pagi, kunang-kunang menghilang. Suara ricik air mengisyaratkan ia sedang berada di pinggir sungai pagi itu. Direbahkannya tubuhnya yang lelah. Ia tiba-tiba benci terang karena menghilangkan kunang-kunang. Saat malam, kunang-kunang kembali muncul. Sangat banyak dan ia terus saja mengikutinya. Jika siang ia akan berhenti karena kehilangan jejak dan malam ia akan berjalan semalaman penuh.

Delapan malam ia berjalan mengikuti kunang-kunang tersebut, namun belum juga sampai. Kakinya membengkak dan tubuhnya payah dicumbui lelah. Tapi ia tak ingin berhenti. Ia ingin sampai ke mata Vhy. Malam kesembilan ia memasuki sebuah kampung. Suara gendang dan puik-puik menyambutnya. Kunang-kunang kian banyak dan gerakannya makin cepat. Ia berlari mengikutinya. Hingga ia sampai pada sebuah rumah. Terang benderang, padahal lampu telah dipadamkan. Ia mengintip apa yang terjadi, dan ia menyaksikan seseorang perempuan di matanya dipenuhi kunang-kunang.

Matanya binar, serupa dipasangi lampu berwatt-watt. Tajam menggetarkan. Rambutnya hitam pekat sedikit bergelombang. Hidungnya tidak terlalu mancung tapi serasi dengan wajahnya. Alisnya melintang semut. Tingginya sekira 162 cm, gerakan tubuhnya terlihat awas tapi lembut. Mengagumkan sekaligus membuat jantung lelaki kurus itu serasa palpitasi.

Perempuan itu terus menari dengan gemulai. Di matanya tumbuh sebatang pohon yang rimbun—“Itukah pohon cinta yang penah diceritakan Ayah,” pikirnya. Tiba-tiba saja tubuh lelaki kurus itu serasa ringan. Ia terbang dan berubah kunang-kunang—lalu masuk ke mata perempuan itu. Ia merasakan kehidupan dan juga kematian berkali-kali di mata Vhy.  

Makassar, 8 September 2015

Cat: Dimuat di Harian Fajar, 8 November 2015 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Google+

Isi Blog