Cinta yang Binar

Ada 0 Komentar
“Saya kembali menemukan kekuatan cinta di mata kalian, penuh binar, penuh kebeningan. Selamat menempuh hidup baru. SAMAWAKI” 

Kurang lebih seperti itu, yang saya tulis pada kado pernikahan seorang teman. Kado yang tak terlalu istimewa. Ada kebiasan “buruk” yang menimpa saya sekarang. Memberikan kado kepada teman yang menikah berupa buku. Alasannya sederhana, buku bisa diwariskan ke anak-anak mereka kelak dan tentu saja bisa mencerdaskannya. Tapi alasan paling masuk akal adalah harga buku lebih murah apalagi jika ada diskon. Hahha.

Semalam saya menghadiri resepsi pernikahan teman “Aya’ dan Muhlis”. Mereka adalah sepasang kekasih yang telah bertahun menjalin hubungan asmara, yang tidak bisa dikatakan sangat mulus hingga sampai ke jenjang pernikahan. Banyak rintangan yang mereka hadapi, termasuk beberapa kali putus lalu nyambung kembali, juga diwarnai beberapa kali “perselingkuhan”. Rupanya tantangan itulah yang mematangkan hubungan mereka. Ujian masa pacaran berhasil dihadapinya, hingga menuju pada ijab Kabul dan mereka “Muhlis dan Aya’” kini menjadi sepasang suami istri yang di matanya berbinar cinta.

Tantangan cinta sesungguhnya baru mereka hadapi, sebab mereka tidak bisa lagi berlagak seperti ketika pacaran dulu, bisa putus nyambung dan juga selingkuh. Saat itu, belum ada ikatan di antara keduanya. Jika berpisah statusnya tidak akan berubah, belum melibatkan dua keluarga besar yang telah berjuang menyatukan cinta mereka.

Kita tentu tahu, adat Bugis-Makassar untuk menyatukan sepasang kekasih yang saling mencintai tidaklah mudah. Ada rintangan yang berduri harus dilewati, bukan hanya rintangan restu tapi juga rintangan adat berupa uang panai, yang kadang memberatkan dan tak berprikemanusian. Tapi seperti itulah, adat hadir untuk membuat manusia saling menghargai satu sama lain. Uang panai adalah wujud penghargaan lelaki kepada perempuan dan kasih sayang orang tua kepada anak lelakinya, yang rela merogoh saku dalam-dalam demi kebahagian anaknya.

Banyak orang mengatakan bahwa menikah adalah wujud cinta yang paling nyata bagi seorang lelaki kepada perempuan dan begitupun sebaliknya. Saling mencintai harus diakhiri dengan pernikahan. Rasanya itu benar meski bagi saya tak sepenuhnya benar. Pernikahan bukanlah satu-satunya wujud nyata cinta. Tapi banyak cara, yang lebih brutal adalah saling melukai, saling meninggalkan.

Bagi saya, tidaklah penting seberapa besar sesorang mencintai kita, tapi seberapa lama ia mampu bertahan mencintai kita. Dan saya sangat yakin, Muhlis sanggup bertahan lama mencintai Aya’ dan Aya’ akan cukup tangguh dalam waktu yang lama mencintai Muhlis hingga keduanya tak lagi cukup menampung cintanya. Kenapa saya mengatakan itu, sebab mereka telah melewati rintangan cinta yang rumit selama bertahun-tahun. Dan apapun itu..selamat buat kalian. Cinta kalian penuh binar, penuh kebeningan..teruslah begitu…

Veteran Utara, 13 Agustus 2015


                                                                      Muhlis dan Aya 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Google+

Isi Blog