Mata di Sebuah Kota

Ada 0 Komentar

mata itu timbul tenggelam di dapur. air asam sedang didih. nasi tegaskan panas dengan rumung. jam mendesak, paksa kita segera tinggalkan rumah. kita bertahan, tunggui nasi jadi hangat. air asam tak melepuhkan.

tak ada mie instan pagi itu. hanya ada garam, vetsin, dan asam. perut tak perlu gizi hanya isi. kita makan tergesa. sebentar lagi indonesia raya penuhi udara. air minum dituang, membujuk zat kapur tidur di dasar gelas.

tak ada teh atau kopi pagi itu. tak ada pula kopilangi'. hanya ada mata lelah, semalaman kita main domino, rayakan dua hari lalu ayam tetangga berhasil dijebak dalam karung. lalu kita memotongnya. tubuh butuh zat besi, katamu setengah serius.

kota ini adalah diari. pinjamkan halaman demi halaman menyimpan wajah kita. polos rabai masa depan. halaman-halaman itu enggan tertutup sepenuhnya. selalu siaga jika tiba-tiba kita pulang. kota ini ingatkan segala lampau.

mata itu tak lagi timbul tenggelam di dapur tunggui air asam didih. nasi jadi hangat, zat kapur tidur di dasar gelas. mata itu kini redup oleh sendiri.

Bulukumba, 21/3/3017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Google+

Isi Blog