Binar Redup di Rumah Kekasih

Ada 0 Komentar

Cuaca yang lebih kerap mendung membuat debu lebih adem berkunjung ke rumah kekasih. Di teras, gumpalannya tidak setebal biasanya. Hasilnya, teras terlihat lebih bersih. Lantai ruang tamu pun demikian, tiga ekor kelelawar yang sering membuang kotoran, dua di antaranya telah tersangkut di kail yang buatnya temui kematiannya.

Kelelawar yang seekor itu, barangkali mulai takut atau ia kesepian beterbangan sendiri di ruang tamu dan akhirnya lebih memilih pindah ke tempat lain mencari teman baru untuk bermain. Kesepian selalu jadi ancaman yang mengerikan, tapi, sayangnya kita tetap membutuhkannya. Seperti sebuah rumah yang selalu kita butuhkan untuk pulang, serupa itulah kesepian. Hemmmm.

Di rumah kekasih, sepi tidak pernah benar-benar pergi. Telah jadi bagian paling romantis di antara kisah-kisah masa lalu di deretan foto yang hiasi dinding. Jadi cerita kenangan pada majalah tempo dulu. Dan debu jadi tamu tetap yang tidak meminta apa-apa.

Dan sepi di rumah kekasih sejak kemarin akan terasa lebih kental melebihi susu coklat dalam kaleng. Bukan karena debu mulai berkurang disebabkan cuaca mendung, bukan itu. Tapi, karena Binar (nama Notebook) sedang redup. Ia sedang sakit. Binar yang berwarna biru itu, barangkali lelah menampung banyak kisah yang tidak pernah kunjung usai, salah satu kisah itu adalah kamu, tentu saja.

Sakitnya Binar jadi peristiwa yang membuat lippu 'bingung' kepala terasa dangngala 'pening' lebih acap dari biasanya. Tentu saja kamu tahu, di dalam tubuh Binar banyak hal yang harus selesai, di antaranya surat cinta untukmu. Binar adalah rumah bagi setiap kenangan, jika ia sakit dan tidak bisa sembuh. Aaaahhh, saya benci membayangkan yang akan terjadi.

...hemmm, maukah kau berdoa untuk kesembuhan Binar?

Rumah kekasih, 28/3/2017 -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Google+

Isi Blog