Polisi, Badik, dan Buku

Ada 0 Komentar
Menyusuri ruas jalan Makassar di malam hari jadi hal yang mulai jarang kulakukan. Bukan hanya karena rumah kekasih yang kuhuni letaknya ada di daerah (Sungguminasa, Gowa) meski jarak tempuhnya ke Makassar hanya hitungan menit. Bukan pula tumbuh kembangnya geng motor dan begal yang sewaktu-waktu bisa merampas napas pengguna jalan, bukan itu--aku lebih suka berendam dalam sepi. Malam ini, cerita kembali berbeda, aku kembali menyusuri beberapa ruas jalan Makassar untuk menemui seorang kawan di warkop yang ada di sekitaran talasalapang, setelah mengantar teman yang lain pulang ke huniannya di Parangtambung. Dari lampu merah perbatasan Makassar jalan menuju Talasalapang akan lebih dekat jika lewat Jl. Syech Yusuf Gowa di mana terdapat makam Tuanta Salamaka Syech Yusuf, tak jauh dari makam yang banyak diziarahi orang, khususnya bagi mereka yang pengantin baru itu, terdapat jalan Jipang, cara menemukannya mudah, di pertigaan pertama belok kiri saja, dan kamu akan memasuki wilayah Makassar, itulah jalan Jipang Raya.

Aku berharap kau akan bingung dari caraku mendeskripsikannya di atas lalu menelponku menanyakan kebenarannya jika kau berkunjung ke kota ini dan ingin mengunjunginya atau lewat ke jalan tersebut. Barangkali tak cukup 200 kali putaran roda Lilan, di pinggir jalan banyak orang berkumpul, di dominasi kaum Adam, cahaya agak remang, aku menerka ada kecelakaan, tapi setelah mendekat, seorang berpakian polisi memintaku menghentikan Lilan, aku patuhi saja, tanpa debar apa-apa. Rasanya sudah cukup lama aku tak pernah dihentikan polisi, tapi malam ini aku kembali menemukannya dan aku merasa senang sebab para "pengayom, pelindung" masyarakat itu rela turun ke jalan bertugas malam-malam demi keamanan masyarkat, selain itu, surat-surat Lilan lengkap, kecuali plat yang telah lama berganti nomornya namun masih menggunakan plat yang lama.

Dan, tentu saja pajaknya belum aku bayar tahun ini, bukan lupa, tapi kantongku benar-benar kemarau saat tempo pembayaran pajak itu menimpa tanpa bisa dielak. Sang Polisi menghampiriku, mengangkat tangan kanannya ke kening, kutatapk dia, aku merasa bangga di hormati. Dia memeriksa sadel motor dan hanya menemukan chargernya Binar (nama notebook) dan sarung warna hitam. Aku menyesal tak menyimpan foto hitam putihmu di sadel. Setelah tak menemukan yang dicari di sadel dia memeriksa tas selempangku,

"Apa isi tasmu?" tanyanya. Aku membukanya, dia terlihat puas karena tak menemukan badik atau senjata tajam lainnya, hanya beberapa buku.

"Ooo, hanya buku," lanjutnya.
"Iye, Pak, tapi itu jauh lebih berbahaya dari badik," kataku setengah bercanda, dia menanggapinya dengan menyuruhku pergi

Warkop Bundu, 4/10/2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Google+

Isi Blog