Mesin Jahit

Ada 2 Komentar
Ibu menatap penuh pertanyaan. Menelusuri wajahku cari jawaban. Aku kikuk, tidak tahu harus menjawab apa. Tatapan Ibu kembali ke layar hape. Lalu kembali menatapku, masih dengan penuh pertanyaan. Menagih jawaban.

 “Aku mencintai perempuan itu, Bu,” jawabku dengan suara bergetar. Itu kejujuran yang paling sulit kuakui di hadapan Ibu. Aku lebih mudah mengakui mencuri ayam tetangga daripada mengakui mencintai perempuan di hadapannya. Kata cinta selalu keluh kuucapkan.

Ibu menatap mataku, menggeledah jawaban yang lebih meyakinkan. Aku tidak mengulangi jawabanku. Aku tersenyum ke arah Ibu, sambil ikut melihat fotomu di layar hape. Kamu memegang balon yang diikat dengan tali sedang duduk di bibir pantai. Wajahmu riang, senyum lepas menantang gelombang. 

“Dia akan datang ke kampung kita yang terpencil ini, Bu. Dia ingin bertemu Ibu,” lanjutku. Ibu terperanjak, lalu kembali menatapku. Mencari kesungguhan dari ucapanku. Ibu menemukan keseriusanku yang matang. 
“Kapan?” tanya Ibu, pertanyaan itu membuatku terkunci, tidak bisa mencari jawaban yang tepat. 
“Secepatnya, Bu.” 

Aku menangkap kekhawatiran sekaligus kebahagian di mata Ibu. Ibu mengedarkan pandangan, menelanjangi isi rumah. Lalu matanya singgah pada mesin jahit yang terletak di sudut rumah. 

“Apakah dia pintar menjahit?” tanya Ibu Aku diam, aku tidak tahu apakah kamu pintar menjahit atau tidak. Dan aku juga tidak tahu apa maksud Ibu bertanya demikian. 

“Aku ingin memberikan mesin jahit itu, sebagai ucapan terima kasih karena bisa membuatmu jatuh cinta,” jelas Ibu sambil mengusap rambutku. Aku masih selalu saja berubah anak kecil yang manja di hadapan Ibu. 
“Tapi, Bu, mesin jahit itukan?” Aku tidak melanjutkannya. Ibu memberi isyarat agar aku tidak mengkhawatirkan mesin jahit tersebut. 

***** 

Sejak kecil, Belia telah pintar menjahit. Ia belajar dari ibunya. Dan ibunya belajar secara otodidak. Ia jatuh cinta pada suara mesin jahit. Ia tahan duduk berlama-lama menjahit—apa saja. Rumah panggungnya akan bergoyang jika ia sedang menjahit. Hingga suatu hari, ia menemukan dua kain. Merah dan putih, dengan keisengan seorang gadis yang akan beranjak remaja. Ia menyatukan kain tersebut hingga menjadi merah putih atau putih merah jika dibalik. 

Siapa sangka kedua kain yang disatukan itu membawa petaka. Pada saat pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan yang di pimpin Kahar Muzakkar, kampungnya di sebelah selatan ibu kota provinsi tidak lepas dari rongrongan pasukan Kahar Muzakkar dan pasukan pemerintah. Kedua saudaranya berseberangan paham. 

Kakak pertamanya mengikuti Kahar Muzakkar melawan pemerintah dan kakak keduanya memilih mengikuti pemerintah menumpas Kahar Muzakkar dan pengikutnya. Dan Belia sendiri tidak tahu harus mengikuti siapa. Ketika kain itu telah dijahit berbentuk merah putih. Kakaknya, yang mengikut Kahar Muzakkar mengambilnya—berniat membakarnya. Namun, kakak keduanya dengan sigap melarang. Terjadi perdebatan hebat yang berujung saling tikam dengan badik. Kedua kakaknya menemui mautnya saat itu juga. 

Hal tersebut tepat terjadi di depan mata Belia. Ia menjerit sejadinya dan entah kenapa rumahnya yang jauh dari keramaian didatangi banyak orang. Mereka menenteng senjata, lalu ia melihat api menjalari rumah panggungnya. Orang tuanya menjerit dan lari menyelamatkan diri beserta dirinya. Tidak ada barang yang bisa selamat, termasuk sebuah mesin jahit, yang jadi andalan keluarganya. 

Belia dan keluarganya terpaksa mengungsi ke kampung seberang. Di kampung tersebut, ia bertemu Rinadi, pemuda yang lebih memilih masuk borong1 mencari rotan daripada ikut pemerintah memerangi pasukan Kahar Muzakkar atau mengikuti Kahar Muzakkar memerangi pemerintah. Ia tidak berpihak pada sesiapa. Lelaki itu berpihak pada pilihan hidupnya. 

Pertemuan yang tidak sengaja dengan Rinadi pada suatu hari yang dikadoi gerimis membuat hati Belia bergetar. Lalu semuanya berjalan dengan cepat. Mimpi akan mudah terwujud pada yang sudah ditakdirkan. Ia ditakdirkan berjodoh dengan Rinadi. Pernikahan mereka digelar sederhana. Tidak pernah ada ungkapan cinta dari Rinadi kepadanya, begitupun sebaliknya hingga usia keduanya menua dan tiga orang anak menjadi bukti cinta mereka yang kuat. 

Belia selalu ingat bagaimana gigihnya Rinadi bekerja keluar masuk borong mencari rotan yang akan dijual. Hasil penjualan rotan itu kemudian dibelikan mesin jahit yang dihadiahkan kepadanya. Belia selalu rindu suara mesin jahit. Ia selalu menceritakan bagaimana mesin jahit ibunya yang ikut terbakar oleh— entah siapa yang membakarnya, pasukan Kahar Muzakkarkah atau pasukan pemerintah? Ia tidak bisa memastikan. Karena saat itu suara senjatan bersahutan. Api menjalari rumah panggungnya—membuat mereka, ayah, ibu dan dirinya lari sekuat mungkin, sejauh yang mereka bisa. Rasa sedih karena kehilangan kedua kakaknya dikalahkan rasa takut.

 Baginya barang paling berharga yang pernah diberikan oleh suaminya adalah mesin jahit itu. Dari mesin jahit itu pula beban hidup keluarganya bisa teratasi. Sehingga Rinadi tidak perlu lagi sering keluar masuk borong mencari rotan. Ia bisa menjahit apa saja, kecuali satu. Bendera. 

*****

 Ibu selalu menceritakan bagaimana Ayah membelikannya mesin jahit. Ayah rela masuk borong mencari rotan. Ayah tidak pernah mengucapkan cinta kepada Ibu, tapi Ibu tahu semua yang dilakukan Ayah adalah bukti cinta kepadanya. Mesin jahit itu, salah satu buktinya yang paling nyata.

“Dari cara memegang benang pada balon ini, ia bisa menjaga mesin jahit itu,” ujar Ibu sambil menunjuk mesin jahit hadiah Ayah. Aku tersenyum, mata rentah Ibu masih tajam. Ia bisa melihat dengan jeli bakatmu hanya melalui foto. 
“Ia mengingatkanku pada masa muda dulu, senyum itu tanpa beban. Senyum adalah cara terbaik mengusir derita, Nak,” jelas Ibu. 

Saat kami sedang membicarakanmu. Ayah ikut bergabung, asap kopi hitam mengganggu penciumanku untuk ikut menyeruputnya. Ayah tidak banyak bicara. Ia tahu jika Ibu telah menyetujui sesuatu untuk anak-anaknya, ia akan mendukung. Tanpa perlu perdebatan panjang. 

“Cinta adalah tanggung jawab, Nak” kata Ayah langsung pada sasaran sambil melirik Ibu. Seakan memberi isyarat agar aku bisa menemukan perempuan seperi Ibu yang rela menghabiskan waktunya untuk satu lelaki, Ayah.

Jika kamu benar-benar datang, jangan heran melihat Ayah dan Ibu seperti sepasang kekasih yag baru jatuh cinta. Keduanya selalu menemukan cinta baru satu sama lain yang buatnya bertahan lama. 

“Ia bisa belajar menjahit, asal jangan pernah menjahit bendera,” pesan Ibu. 

Kamu harus tahu, Ibu tidak pernah mengizinkan Ayah mengibarkan bendera. Bahkan di hari kemerdekaan bangsa ini sekalipun. Barangkali masih trauma. Sebab sebuah bendera telah menghanguskan rumah dan mesin jahit ibunya, dan juga merampas kedua kakak lelakinya. Jadi, jangan pernah menyakiti Ibu dengan menjahit bendera atau memakai baju bercorak bendera ketika datang. Kamu bisakan memenuhi syarat itu? 

Rumah kekasih, 2 Mei 2016

Cat: Borong1= Hutan

Cerpen ini pernah dimuat di Lombok Post, 5 Juni 2016

Baca Lengkap

Google+

Isi Blog