Luka Duka Luka

Ada 3 Komentar
Suro, pesuruh datang tengah malam dengan wajah dilumuri peluh. Sarung bercorak kotak-kotak kecil warna hijau melilit pinggangnya, menjuntai hingga lutut. Celana jongkoro, celana pendek longgar yang dikenakan terlihat basah. Passapu, pengikat kepalanya berantakan, tak lagi lurus semestinya. Napasnya terengah. Aku yang sejak beberapa malam tak bisa tidur mendengar tubarani mencecarnya dengan tanya di depan kamarku.

“Ada pesan dari sang Putri yang harus kusampaikan, ini penting,” jelasnya terdengar samar dari dalam bilikku.

Aku membuka pintu dengan sedikit tergesa. Ketika pintu terkuak, serentak para tubarani berjongkok menyembah. Sebenarnya aku risih diperlakukan demikian. Suro maju ke depan dengan berjalan jongkok tanpa berani mendongakkan kepala. Passapunya telah miring

Tak banyak kata selain basa-basi yang diucapkan, sebagai sumpah setia lalu menyerahkan gulungan daun lontar kepadaku. Aku bisa menebak apa isi surat itu. Suro yang datang tengah malam kali ini bukan sembarang suro. Ia adalah suro andalan sang Putri.

“Apakah kegelisahan sang Putri serupa gelisahku yang merongrong tanpa jeda?” terkaku dalam hati.

“Pulanglah, aku akan segera ku Bukit Tamalate!” perintah itu menguar begitu saja. Suro bergerak mundur sambil jongkok, lalu menghilang ditelan pekat. Tak ada pikiran lain mampir ke kepalaku selain menyuruh pengawal menyiapkan kuda. Aku bergegas masuk ke kamar, mengenakan baju warnah merah darah dan passapu.

Sangat jarang perintah sang Putri bertandang untuk menemuinya. Pasti ada hal genting yang terjadi di tanah Gowa. Harusnya aku tak perlu bertanya, sebab aroma kemarahan dan darah telah menyebar kemana-mana. Aku gelisah, serupa saat Belanda akan menaklukkan Gowa.

                                                                                 *****

Aku memasuki rumah sang Putri, dayang-dayang yang mengiringi saat ia turun ke bumi tertunduk lesu, aku kadang berharap mendengar mereka ma’royong. Tapi, wajah para dayang itu diremasi duka, ada kesedihan teramat tanak di sana. Dan wajah sang Putri kehilangan cerianya.

“Gowa kembali berdarah, I Mallombasi, kerakusan menguasai Gowa seperti sebelum aku turun ke bumi,” tutur sang Putri.

“Aku tak mengerti kenapa kerakusan manusia tak pernah padam. Api kekuasaan terus saja berkobar melahap apa saja,” lanjutnya dengan suara bergetar antara marah dan sedih.

Aku tak berani mendongak menatap mata bening sang Putri. Tumanurung Bainea, pemegang tumpuk kekuasaan pertama di Gowa setelah periode La Galigo berakhir. Tak ada yang bisa mencegah air mata sang Putri tumpah, air matanya bening, sangat bening. Aku hanya melihatnya sekilas. Para dayang-dayang yang turun bersamanya tak bergeming. Satu di antara mereka memberanikan diri maju menyerahkan selendang warna kuning cerah, lalu sang Putri menghapus air matanya dengan selendang itu.

Suaranya tak keluar seperti juga suaraku dan suara semua orang yang ada di ruangan itu. Kami hanya bisa menangis bersama, menahan marah yang entah kepada siapa akan disarungkan agar reda. Semua leluhur Gowa berkumpul di rumah sang Putri meratapi nasib Gowa yang kembali koyak oleh ego.

Aku tertunduk lesu, aku merasa yang paling bertanggung jawab—sebab di tanganku, pada saat singgasana berada kepadaku, Gowa runtuh diobrak abrik Tomalompoa, Belanda. Perjanjian Bongaya yang kutanda tangani dengan sangat terpaksa mengubah wajah Gowa. Aku tak punya pilihan, keselamata rakyat Gowa saat itu jauh lebih penting daripada tahtataku, daripada nyawaku sendiri.

Di sini, di anja, dunia arwah, akhirat kami tak bisa berbuat apa-apa selain menangis, selain meratapi nasib Gowa yang dulu ditakuti karena keberanian tubaraninya, karena memegang adat siriq na pacce yang tak goyah. Kami tak punya kuasa apa-apa lagi di sini bahkan doa tak lagi berguna. Yang kami punya hanya air mata dan marah yang tak bisa disalurkan lagi, selain kembali berubah tangis.

“Sengaja kukumpulkan kalian di sini, di Bukit Tamalate ini sebab dari sinilah Gowa kembali dibangun setelah rakyatnya sianre bale seperti yang terjadi sekarang ini. Rakyat bingung harus berkiblat kemana, mereka dijadikan tumbal kekuasaan,” ujar sang Putri dengan suara serak yang berat. Sisa tangisannya masih membaur dalam suaranya.

Aku semakin tertunduk, ini lebih berat rasanya daripada saat Belanda menghancurkan Gowa dengan meriam. Saat itu, lawan sangat jelas siapa, mereka adalah orang asing dari negeri jauh dan para sekutunya yang haus kekuasaan sehingga rela membantai sebangsanya sendiri. Tapi kini yang terjadi di Gowa adalah perebutan kekuasaan sesama saudara, sedarah, setanah air Gowa yang bersejarah.

Aku tak bisa mengeluarkan kata-kata, air mataku saja yang tumpah. Jika saja kami punya kuasa kembali ke dunia, kembali ke tanah Gowa sebagai manusia dengan napas mengalir dalam tubuh. Aku akan datang ke Istana Balla Lompoa, menangis sejadi-jadinya agar orang tahu, kami sedih dengan yang menimpah tanah bersejarah ini.

“Kita berkumpul di sini, bukan untuk melawan, kita tak punya lagi kuasa. Kita berkumpul hanya untuk merayakan kesedihan kita atas apa yang dilakukan para anak cucu kita di Gowa yang berebut kekuasaan."

Aku mendongak, memberanikan diri—menatap mata bening sang Putri. Tak ada senyum, tak ada, yang ada hanya air matanya yang meleleh, juga air mata para petinggi Gowa tempo silam, raja-raja Gowa pun sama, bisu. Para tubarani pun tertunduk lunglai, tak ada kegarangan di mata mereka. Tak ada apa-apa yang tersisa di anja ini selain kesedihan. Sedih meremasi kami. Suro yang datang memanggilku di jeraqku, makamku pun tertunduk lesu di sudut ruangan.

“I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya sang Putri kepadaku. Aku mengedarkan pandangan, menatap semua yang ada. Aku merasa tak pantas diperlakukan istimewa oleh sang Putri, masih ada raja-raja yang lebih dulu menakhodai Gowa.

“Kamulah yang paling dekat dengan rakyat Gowa, Mallombasi, nama dan patungmu ada di mana-mana, kau lebih kenal dari kami, dan hanya jeraqmu yang selalu dipasangi lilin merah yang menyala. Orang Gowa akan mendengar titahmu, bertitahlah! Lalu kita memohon kepada penentu nasib, agar kita bisa menjelma ke dunia. Menyatukan kembalki rakyat Gowa dari cerainya yang mengiris, menjelma Tomanurung,”

Aku memperbaiki passapu yang hampir jatuh karena lebih banyak tertunduk. Aku ingin bertitah, tapi suaraku tertahan oleh tangis, lalu air mata meruah, membanjir dari mataku. Kami kembali menangis dalam geram melihat Gowa dikoyak anaknya sendiri. Kami merasakan luka duka yang nganga tanpa jeda.

Rumah kekasih, 10 Oktober 2016

Cat: Dimuat di Harian Fajar, 16 Oktober 2016



Baca Lengkap

Polisi, Badik, dan Buku

Ada 0 Komentar
Menyusuri ruas jalan Makassar di malam hari jadi hal yang mulai jarang kulakukan. Bukan hanya karena rumah kekasih yang kuhuni letaknya ada di daerah (Sungguminasa, Gowa) meski jarak tempuhnya ke Makassar hanya hitungan menit. Bukan pula tumbuh kembangnya geng motor dan begal yang sewaktu-waktu bisa merampas napas pengguna jalan, bukan itu--aku lebih suka berendam dalam sepi. Malam ini, cerita kembali berbeda, aku kembali menyusuri beberapa ruas jalan Makassar untuk menemui seorang kawan di warkop yang ada di sekitaran talasalapang, setelah mengantar teman yang lain pulang ke huniannya di Parangtambung. Dari lampu merah perbatasan Makassar jalan menuju Talasalapang akan lebih dekat jika lewat Jl. Syech Yusuf Gowa di mana terdapat makam Tuanta Salamaka Syech Yusuf, tak jauh dari makam yang banyak diziarahi orang, khususnya bagi mereka yang pengantin baru itu, terdapat jalan Jipang, cara menemukannya mudah, di pertigaan pertama belok kiri saja, dan kamu akan memasuki wilayah Makassar, itulah jalan Jipang Raya.

Aku berharap kau akan bingung dari caraku mendeskripsikannya di atas lalu menelponku menanyakan kebenarannya jika kau berkunjung ke kota ini dan ingin mengunjunginya atau lewat ke jalan tersebut. Barangkali tak cukup 200 kali putaran roda Lilan, di pinggir jalan banyak orang berkumpul, di dominasi kaum Adam, cahaya agak remang, aku menerka ada kecelakaan, tapi setelah mendekat, seorang berpakian polisi memintaku menghentikan Lilan, aku patuhi saja, tanpa debar apa-apa. Rasanya sudah cukup lama aku tak pernah dihentikan polisi, tapi malam ini aku kembali menemukannya dan aku merasa senang sebab para "pengayom, pelindung" masyarakat itu rela turun ke jalan bertugas malam-malam demi keamanan masyarkat, selain itu, surat-surat Lilan lengkap, kecuali plat yang telah lama berganti nomornya namun masih menggunakan plat yang lama.

Dan, tentu saja pajaknya belum aku bayar tahun ini, bukan lupa, tapi kantongku benar-benar kemarau saat tempo pembayaran pajak itu menimpa tanpa bisa dielak. Sang Polisi menghampiriku, mengangkat tangan kanannya ke kening, kutatapk dia, aku merasa bangga di hormati. Dia memeriksa sadel motor dan hanya menemukan chargernya Binar (nama notebook) dan sarung warna hitam. Aku menyesal tak menyimpan foto hitam putihmu di sadel. Setelah tak menemukan yang dicari di sadel dia memeriksa tas selempangku,

"Apa isi tasmu?" tanyanya. Aku membukanya, dia terlihat puas karena tak menemukan badik atau senjata tajam lainnya, hanya beberapa buku.

"Ooo, hanya buku," lanjutnya.
"Iye, Pak, tapi itu jauh lebih berbahaya dari badik," kataku setengah bercanda, dia menanggapinya dengan menyuruhku pergi

Warkop Bundu, 4/10/2016



Baca Lengkap

Boleh Kau Sebut Apa Saja!!!

Ada 0 Komentar
merasakan cemas, beku dalam darah--pucat
 aku duduk dalam tatapan tajam duri-duri, tunggui tikaman merobek segala sendiku
 hingga ke tulang-tulang paling sembunyi.

 pesakitan selalu punya alasan lari dari pertarungan, seperti lari menghindari hujan dengan alasan sederhana--takut basah.
aku memilih bertahan, gemetar dalam cemas.
sebab lari berarti akhir.

dua tahun dengan harapan cemas, diakhiri dengan duduk sendiri, menangkis peluruh yang berubah pertanyaan.
tubuh rapuhku selamat, tulang-tulangku selamat, tapi jalan membentang kian panjang.
aku baru saja mulai perjalanan, beban terasa batu di pundak.

telah lama tersulam kata usai, di buku buku masa lalu.
usai bukan titik, usai adalah memulai kembali, usai melanjutkan dengan kebaruan.
waktu akan lebih liar dari sebelum hari ini.

 jantungku hampir palpitasi, dicemaskan pertanyaan, yang pada akhirnya tidak sampai membinasakan.
 tidak sampai menembus batas tulangku, apalagi mencuri rusukku yang disimpan kekasih.

aku jadi kisah, yang akan menceritakan sendiri kisahnya.
 bukan tentang hujan yang turun menggagalkan keceriaan matahari
bukan tentang kekasih yang lupa mengucapkan selamat malam pada kekasihnya sebelum tidur.

 ini tentang jalan samar yang penuh kejutan.
 aku telah menjelma kisah, yang akan sampai pada waktu jauh sesudah hari ini--kelak
 boleh kau sebut apa saja; misalnya kekasih.

 Rumah kekasih, 15/4/2016

Add caption
Baca Lengkap

Mesin Jahit

Ada 2 Komentar
Ibu menatap penuh pertanyaan. Menelusuri wajahku cari jawaban. Aku kikuk, tidak tahu harus menjawab apa. Tatapan Ibu kembali ke layar hape. Lalu kembali menatapku, masih dengan penuh pertanyaan. Menagih jawaban.

 “Aku mencintai perempuan itu, Bu,” jawabku dengan suara bergetar. Itu kejujuran yang paling sulit kuakui di hadapan Ibu. Aku lebih mudah mengakui mencuri ayam tetangga daripada mengakui mencintai perempuan di hadapannya. Kata cinta selalu keluh kuucapkan.

Ibu menatap mataku, menggeledah jawaban yang lebih meyakinkan. Aku tidak mengulangi jawabanku. Aku tersenyum ke arah Ibu, sambil ikut melihat fotomu di layar hape. Kamu memegang balon yang diikat dengan tali sedang duduk di bibir pantai. Wajahmu riang, senyum lepas menantang gelombang. 

“Dia akan datang ke kampung kita yang terpencil ini, Bu. Dia ingin bertemu Ibu,” lanjutku. Ibu terperanjak, lalu kembali menatapku. Mencari kesungguhan dari ucapanku. Ibu menemukan keseriusanku yang matang. 
“Kapan?” tanya Ibu, pertanyaan itu membuatku terkunci, tidak bisa mencari jawaban yang tepat. 
“Secepatnya, Bu.” 

Aku menangkap kekhawatiran sekaligus kebahagian di mata Ibu. Ibu mengedarkan pandangan, menelanjangi isi rumah. Lalu matanya singgah pada mesin jahit yang terletak di sudut rumah. 

“Apakah dia pintar menjahit?” tanya Ibu Aku diam, aku tidak tahu apakah kamu pintar menjahit atau tidak. Dan aku juga tidak tahu apa maksud Ibu bertanya demikian. 

“Aku ingin memberikan mesin jahit itu, sebagai ucapan terima kasih karena bisa membuatmu jatuh cinta,” jelas Ibu sambil mengusap rambutku. Aku masih selalu saja berubah anak kecil yang manja di hadapan Ibu. 
“Tapi, Bu, mesin jahit itukan?” Aku tidak melanjutkannya. Ibu memberi isyarat agar aku tidak mengkhawatirkan mesin jahit tersebut. 

***** 

Sejak kecil, Belia telah pintar menjahit. Ia belajar dari ibunya. Dan ibunya belajar secara otodidak. Ia jatuh cinta pada suara mesin jahit. Ia tahan duduk berlama-lama menjahit—apa saja. Rumah panggungnya akan bergoyang jika ia sedang menjahit. Hingga suatu hari, ia menemukan dua kain. Merah dan putih, dengan keisengan seorang gadis yang akan beranjak remaja. Ia menyatukan kain tersebut hingga menjadi merah putih atau putih merah jika dibalik. 

Siapa sangka kedua kain yang disatukan itu membawa petaka. Pada saat pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan yang di pimpin Kahar Muzakkar, kampungnya di sebelah selatan ibu kota provinsi tidak lepas dari rongrongan pasukan Kahar Muzakkar dan pasukan pemerintah. Kedua saudaranya berseberangan paham. 

Kakak pertamanya mengikuti Kahar Muzakkar melawan pemerintah dan kakak keduanya memilih mengikuti pemerintah menumpas Kahar Muzakkar dan pengikutnya. Dan Belia sendiri tidak tahu harus mengikuti siapa. Ketika kain itu telah dijahit berbentuk merah putih. Kakaknya, yang mengikut Kahar Muzakkar mengambilnya—berniat membakarnya. Namun, kakak keduanya dengan sigap melarang. Terjadi perdebatan hebat yang berujung saling tikam dengan badik. Kedua kakaknya menemui mautnya saat itu juga. 

Hal tersebut tepat terjadi di depan mata Belia. Ia menjerit sejadinya dan entah kenapa rumahnya yang jauh dari keramaian didatangi banyak orang. Mereka menenteng senjata, lalu ia melihat api menjalari rumah panggungnya. Orang tuanya menjerit dan lari menyelamatkan diri beserta dirinya. Tidak ada barang yang bisa selamat, termasuk sebuah mesin jahit, yang jadi andalan keluarganya. 

Belia dan keluarganya terpaksa mengungsi ke kampung seberang. Di kampung tersebut, ia bertemu Rinadi, pemuda yang lebih memilih masuk borong1 mencari rotan daripada ikut pemerintah memerangi pasukan Kahar Muzakkar atau mengikuti Kahar Muzakkar memerangi pemerintah. Ia tidak berpihak pada sesiapa. Lelaki itu berpihak pada pilihan hidupnya. 

Pertemuan yang tidak sengaja dengan Rinadi pada suatu hari yang dikadoi gerimis membuat hati Belia bergetar. Lalu semuanya berjalan dengan cepat. Mimpi akan mudah terwujud pada yang sudah ditakdirkan. Ia ditakdirkan berjodoh dengan Rinadi. Pernikahan mereka digelar sederhana. Tidak pernah ada ungkapan cinta dari Rinadi kepadanya, begitupun sebaliknya hingga usia keduanya menua dan tiga orang anak menjadi bukti cinta mereka yang kuat. 

Belia selalu ingat bagaimana gigihnya Rinadi bekerja keluar masuk borong mencari rotan yang akan dijual. Hasil penjualan rotan itu kemudian dibelikan mesin jahit yang dihadiahkan kepadanya. Belia selalu rindu suara mesin jahit. Ia selalu menceritakan bagaimana mesin jahit ibunya yang ikut terbakar oleh— entah siapa yang membakarnya, pasukan Kahar Muzakkarkah atau pasukan pemerintah? Ia tidak bisa memastikan. Karena saat itu suara senjatan bersahutan. Api menjalari rumah panggungnya—membuat mereka, ayah, ibu dan dirinya lari sekuat mungkin, sejauh yang mereka bisa. Rasa sedih karena kehilangan kedua kakaknya dikalahkan rasa takut.

 Baginya barang paling berharga yang pernah diberikan oleh suaminya adalah mesin jahit itu. Dari mesin jahit itu pula beban hidup keluarganya bisa teratasi. Sehingga Rinadi tidak perlu lagi sering keluar masuk borong mencari rotan. Ia bisa menjahit apa saja, kecuali satu. Bendera. 

*****

 Ibu selalu menceritakan bagaimana Ayah membelikannya mesin jahit. Ayah rela masuk borong mencari rotan. Ayah tidak pernah mengucapkan cinta kepada Ibu, tapi Ibu tahu semua yang dilakukan Ayah adalah bukti cinta kepadanya. Mesin jahit itu, salah satu buktinya yang paling nyata.

“Dari cara memegang benang pada balon ini, ia bisa menjaga mesin jahit itu,” ujar Ibu sambil menunjuk mesin jahit hadiah Ayah. Aku tersenyum, mata rentah Ibu masih tajam. Ia bisa melihat dengan jeli bakatmu hanya melalui foto. 
“Ia mengingatkanku pada masa muda dulu, senyum itu tanpa beban. Senyum adalah cara terbaik mengusir derita, Nak,” jelas Ibu. 

Saat kami sedang membicarakanmu. Ayah ikut bergabung, asap kopi hitam mengganggu penciumanku untuk ikut menyeruputnya. Ayah tidak banyak bicara. Ia tahu jika Ibu telah menyetujui sesuatu untuk anak-anaknya, ia akan mendukung. Tanpa perlu perdebatan panjang. 

“Cinta adalah tanggung jawab, Nak” kata Ayah langsung pada sasaran sambil melirik Ibu. Seakan memberi isyarat agar aku bisa menemukan perempuan seperi Ibu yang rela menghabiskan waktunya untuk satu lelaki, Ayah.

Jika kamu benar-benar datang, jangan heran melihat Ayah dan Ibu seperti sepasang kekasih yag baru jatuh cinta. Keduanya selalu menemukan cinta baru satu sama lain yang buatnya bertahan lama. 

“Ia bisa belajar menjahit, asal jangan pernah menjahit bendera,” pesan Ibu. 

Kamu harus tahu, Ibu tidak pernah mengizinkan Ayah mengibarkan bendera. Bahkan di hari kemerdekaan bangsa ini sekalipun. Barangkali masih trauma. Sebab sebuah bendera telah menghanguskan rumah dan mesin jahit ibunya, dan juga merampas kedua kakak lelakinya. Jadi, jangan pernah menyakiti Ibu dengan menjahit bendera atau memakai baju bercorak bendera ketika datang. Kamu bisakan memenuhi syarat itu? 

Rumah kekasih, 2 Mei 2016

Cat: Borong1= Hutan

Cerpen ini pernah dimuat di Lombok Post, 5 Juni 2016

Baca Lengkap

Surat Pertama

Ada 3 Komentar
Kepada Kamu

Jika saja kau menatap mataku saat ini, ketika menulis surat pertama ini untukmu. Kau akan menemukan tumpukan rindu yang mengalir jadi gelisah di sana. Tapi kali ini, aku menemukan satu hal dari tiadanya kabarmu—aku akhirnya paham, aku membutuhkan dirimu. Pasti kau akan tertawa mendengar pengakuan polos itu, dari lelaki yang bahkan tak pernah kau temui sekalipun. Pertemuan adalah takdir lain dari rindu. Kita telah saling bertemu secara non fisik, pertemuan secara fisik (nyata) hanya akan jadi penyempurna dari pertemuan sebelumnya.

Ada banyak hal yang akan kau jumpai dalam diriku—yang barangkali menjadi sebuah keanehan bagimu. Dari keanehan itu, pucuk-pucuk rindu akan lebih mekar, akan lebih mengalir jernih dalam jiwa yang berupaya saling menemukan. Aku berusaha pahami jika ini bukanlah rindu, ini hanya perasaan sepi yang disebabkan kesendirian yang panjang. Tapi, aku gagal sendiri meyakinkan diriku. Rasa ini adalah rerumputan yang menyambut datangnya musim hujan.

Aku temukan ide untuk mengusir rindu itu dengan cara datang kepadamu bercerita—perihal apa saja. Maka aku mulai menulis surat untukmu. Aku tahu, jarak kita tak memungkinkan untuk saling menjenguk dalam pelukan, saling menatap mata yang lelah karena kesibukan masing-masing. Kamu sibuk dengan kerjaanmu dan aku sibuk merindukanmu. Merindu itu lebih berat dari apapun, merindu pekerjaan yang menolak selesai. Datang saat tak diinginkan sekalipun.

Perkenalan kita rasanya sudah cukup lama. Aku selalu ingat peristiwa ketika kau datang menyapa melalui BlackBerry Messenger (BBM) saat melihat tampilan Display Picture (DP)-ku dengan kamar yang berantakan. Kau menyuruhku menghalalkan perempuanku. Aku tersenyum kalah saat itu, jika saja kau tahu. Belum ada perempuan yang akan kuhalalkan. Lalu semuanya seolah berjalan sesuai takdirnya. Dan diam-diam sejak saat itu, aku selalu berdoa, Tuhan mengabulkan semua pintaku atas dirimu.

Adamu mampu mengusir air mata duka dari mataku. Tentu kau ingat peristiwa di ujung Januari tahun ini (2016), tepatnya tanggal 28 itu. Duka merebak dalam keluargaku. Seseorang yang sangat berarti menuju jalan yang tak punya pintu kembali ke dalam pelukan kami. Itu peristiwa duka yang sangat dahsyat. Aku sering temukan mata sembab Ayah dan Ibu. Dan aku sendiri selalu gagal untuk tidak menangis hingga kini. Aku menemukan kesedihanku. Namun mengingatmu, rasa sedih itu beralih. Adamu menumbuhkan dedaunan yang layu dipapar kemarau.

Peristiwa di ujung Januari itu mengajariku banyak hal, termasuk kehilangan dan bagaimana menemukan kesedihan. Aku merasa tak lagi terlalu takut untuk kehilangan. Tapi aku selalu merinding jika membayangkan kau akan pergi dengan sisa pelukan yang belum selesai dalam tubuhku. Aku ngeri membayangkan bagaimana panjangnya kesepian ini jika kau beranjak dari ada menuju tiadamu atau di sisimu seorang yang lain menyandarkan kepalamu yang lelah.

Sekarang aku ditemani segelas teh dan dua biji donat yang dilamuri gula—seorang diri, tentu saja sambil membayangkan kamu datang mengetuk pintu dengan mata redup setelah perjalanan cukup jauh dari satu kota ke kota lain atau saat kau lelah bertarung dengan data-data lalu merengek manja ingin tidur di bahuku. Tak perlu khawatir, sekurus ini, bahuku akan sanggup menopang lelahmu yang tanak.

Bagaimana pertemuan kita kelak? Seringkah kau membayangkan jika itu akan lebih romantis dari pertemuan bunga dengan air yang buatnya tumbuh atau lebih mengerikan dari pepohonan yang rantingnya dirampas benalu yang buatnya meranggas?

Aku mulai belajar menulis puisi untukmu, sebagai kado rindu yang terus saja manja dalam diriku.

datanglah bersama angin yang menerobos dari jendela kamar. 
memainkan mataku yang terus tajam menatap arah datangmu. 
aku ranting ditumbuhi pucuk daun. 

ada surat kutulis pada dilipatan jarak kita yang mulai kokoh. 
seberapa jauh jalan kita tapaki. 
menuju titik temu di sebuah ragu. 

aku dari asing. kau dari asing. 
pepuisi masih terus ditulis, sebagai teman menyeruput kopi saat sendiri. 

di sini, kabarmu kugantung lebih dekat dari denyutku, lebih jauh dari diriki sendiri. 
seberapa beranikah kita tetak jarak. 

di sini, lagu masih dinyanyikan dengan serak. 
aku masih berjalan mencari sepotong cahaya yang dicuri pagi. 

lalu siapa yang mencipta jarak-- aku, kamu atau rindu? 

Rumah kekasih, 16 Mei 2016
Baca Lengkap

Petarung Rindu di Lontara Rindu

Ada 0 Komentar
Saya termasuk orang yang telat membaca novel Lontara Rindu yang ditulis S. Gegge Mappangewa. Padahal novel tersebut memiliki daya tarik yang kuat, karena merupakan pemenang lomba novel yang diadakan Republika tahun 2012. Siapapun pasti tahu, karya yang menjadi pemenang pastilah karya yang memiliki kualitas terbaik, termasuk novel Lontara Rindu yang mampu menyingkirkan ratusan novel peserta lomba.

Saya tak menemukan alasan yang berarti kenapa saya telat membaca novel tersebut, selain bahwa saya termasuk orang yang tidak terlalu mudah terpengaruh oleh hiruk pikuk sebuah karya terbaik. Saya biasa mendiamkannya, lalu pada suatu waktu yang kadang tidak terduga, saya akan melahapnya. Setelah membacanya Lontara Rindu saya tahu kenapa menjadi pemenang. Kisahnya mengharu biru. Apalagi saya menyukai kisah cinta yang tragis.

Kisah cinta Halimah dan Ilham salah satunya. Halimah dan Ilham serupa dua kutub yang berbeda, tapi memiliki rasa ketertarikan untuk saling melengkapi. Perbedaan pendidikan yang mencolok hingga perbedaan keyakinan yang harus diterabas demi menyatukan cinta mereka. Bagaimana Halimah dengan suka rela meninggalkan Azis, calon suaminya demi membuktikan cintanya kepada Ilham. Dan bagaiman luar biasa gigihnya Ilham menunggu Halimah hingga berhari-hari di pinggir jalan.

Dari cinta itulah, tumbuh satu peristiwa yang menohok hati, yakni kerinduan. Cinta dan kerinduan tak pernah bisa dipisahkan, tak pernah. Kerinduan membawa cinta dan cinta membawa kerinduan. Hanya saja, cinta bisa tumbuh pada jarak yang paling dekat. Sementara rindu hanya bisa tumbuh jika ada rentang jarak yang memisah.

Penyatuan cinta yang melanggar adat karena silariang (kawin lari) antara Halimah dan Ilham kemudian melahirkan sosok yang tangguh dalam bertarung rindu bernama Vito. Kerinduan yang dialami Vito, sungguh di luar kemampuan seorang anak seusianya, yang baru sepuluh tahun lebih. Rindu yang tarik ulur pada dua orang sekaligus. Bisa dibayangkan, bagaimana beban rindu yang datang bersamaan itu, kepada saudara kembarnya yang bernama Vino dan kepada ayahnya. Kerinduan itu pula yang membuatnya harus rela begadang di pos ronda, mendengar cerita dari para penjaga, demi bisa lari dari rindunya.

Kerinduan yang menumpuk itulah yang membuat Vito rela mengunjungi Amparitta demi bertemu ayah dan saudaranya. Mengunjungi tempat asing, tentu bukanlah perkara muda pula bagi anak seusia Vito. Tapi rindu mengalahkan segalanya. Sementara ibunya, mengalami pula rindu yang gelitar, tapi rindu ibunya hanya pada satu sosok, yakni Vino. Maka kerinduan Vito lebih besar dari ibunya, karena ia menanggung rindu kepada dua orang sekaligus.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia (KBBI) rindu memiliki arti sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Vito sangat berharap bisa bertemu dengan saudara kembaranya, Vino dan ayahnya, Ilham. Apakah rindu akan hilang setelah pertemuan? Jawabannya tentu tidak, sebab tidak ada rindu yang benar-benar bisa hilang setelah pertemuan, hanya menipiskannya sejenak kemudian menumbuhkannya kembali lebih subur setelah pertemuan.

Berbincang tentang rindu, selalu saja mengarah pada lawan jenis, antara lelaki dan perempuan, antara kekasih dan kekasihnya. Tapi dalam Lontara Rindu, rindu dikemas untuk usia yang lebih dini, untuk kiblat lain bernama keluarga. Membaca Lontara Rindu serupa mengarungi sungai yang penuh batu besar dengan arus yang deras menuju muara bernama pertemuan.

Suatu ketika, saya pernah ingin lari dari rindu, seperti Vito yang lari dari rindunya tapi percuma. Rindu punya radar untuk menemukan siapa saja yang ingin lari darinya. Rindu menemukan saya di sunyi dan di riuh manapun saya berada. Saya pikir semua orang akan gagal menghindari rindu.

Seseorang bisa saja menghindari pertemuan dengan berbagai alasan, tapi tak akan bisa menghindar dari rindu. Rindu menyusup lebih lembut dari air yang merembes di celah atap yang paling sempit. Rindu bisa berjalan di tengah pekatnya malam lalu menemukan kita terbaring, kemudian menindisi kita hingga senak. Entah rindu terbuat dari piranti apa? Ia bisa mendeteksi tiap wajah yang dirindukan, tiap kenangan, tiap inci peristiwa. Seperti yang melanda Vito dan Halimah. Rindu menghadirkan dengan vurgar tiap inci kenangan yang pernah mereka dilalui dan dirayakan bersama.

Sebenarnya tak ada kesepian, yang ada adalah merindukan keramaian, tak ada derita yang ada hanya merindukan bahagia, tak ada apa-apa jika tak ada rindu sebab rindu akan selalu bergandengan dengan harapan. Dan harapan selalu menuntut untuk diwujudkan. Mewujudkan pertemuan dengan harapan akan menghapus rindu adalah keliru, sebab pada pertemuan akan tercipta kenangan, dan kenangan adalah penyebab rindu yang paling dahsyat.

Rumah kekasih, 7 Maret 2016 
Penulis Warga Ikatan Pemerhari Seni dan Sastra

Cat: Dimuat di Harian Fajar, 13 Maret 2016

 
Baca Lengkap

Merayakan Waktu

Ada 1 Komentar
“waktu yang dinikmati adalah liburan sesungguhnya”

Seenaknya saja saya mengeluarkan pendapat tersebut, ketika seorang teman bertanya kemana saya akhir pekan ini. Teman saya tersebut menertawakan saya ketika mengatakan bahwa tak ada dalam rumus kehidupan saya agenda akhir pekan, jika saya ingin pergi ke suatu tempat, maka saya akan mendatanginya hari apapun itu—jika kondisi memungkinkan. Dan teman saya tadi lebih tertawa lagi, lebih tepatnya mengejek ketika saya katakan, sudah cukup lama saya lebih merasa lebih nyaman di rumah kekasih.

“Apa kamu tidak bosan, nikmati waktu dengan jalan-jalan,” katanya sambil menahan tawa. Maka saya menjawabnya dengan jawaban seperti di awal tulisan ini—yang diketik miring. Bagi saya apapun itu, dimanapun saya jika saya merasa menikmati waktu yang saya miliki, entah dengan sendiri atau ramai-ramai, entah dengan jalan-jalan atau sendiri di rumah adalah liburan sesungguhnya. Barangkali hal tersebut berlaku karena saya tidak punya kesibukan yang berarti.
Selain jualan buku, mengkhayal, dan mengerjakan tugas akhir. Aktivitas saya hanya berceloteh tak berarti di media sosial.

“Kamu sepertinya tidak bahagia, tidak pernah terlihat jalan-jalan, menghadiri pesta lalu mempostingnya di sosmed?” lanjut teman saya tersebut dengan pertanyaan yang mulai memvonis. Saya ingin bertanya kepadanya, tahu darimana saya bahagia atau tidak? Kebahagian adalah peristiwa batin yang tidak bisa dipastikan hanya dari senyum seseorang. Saya juga ingin mengatakan kepada teman saya tersebut, bahwa saya tidak percaya bahwa pesta dan jalan-jalan adalah satu-satunya cara merayakan kebahagian. Saya tidak yakin, mereka yang tertawa di meja makan adalah orang yang benar-benar bahagia atau mereka yang berselfie ria dengan latar pemandangan menakjubkan adalah orang yang benar-benar bahagia.

Pada sebuah sempat, ketika sedang berada di Malang, Jawa Timur. Saat itu, saya baru saja turun dari bus bersama dua orang teman, kami dari Surabaya. Perut keroncongan, hari sudah beranjak menuju siang yang larut. Kami memasuki sebuah warung di terminal, tak terlihat senyum di wajah kami karena capek dan lapar. Wajah kami justru terlihat cemas karena pertama kalinya ke Malang dan lebih cemas lagi bercampur bingung ketika membayar makanan yang harganya sangat jauh dari harapan kami. Tapi saya tidak bisa menjamin, apakah kedua orang teman saya tersebut juga cemas seperti saya lantas mereka tidak bahagia.

Perjalanan tersebut kami lakukan bertiga, tapi pengalaman batinnya adalah milik masing-masing dari kami—tak ada yang bisa mencurinya. Saya berusaha menikmati perjalanan tersebut, tapi sulit karena dibekapi rasa capek. Maka saya mengambil kesimpulan kecil, bahwa perjalanan atau jalan-jalan tak selamanya bisa menjadi liburan jika kita tak bisa menikmati waktu tersebut. Hanya saja, semakin banyak berjalan, semakin banyak pula yang akan kita lihat dan memberikan pelajaran serta pengalaman tak terhingga, sangat berharga.

Seorang teman lainnya, sangat risau karena ia tidak bisa jalan-jalan di hari Sabtu dan Minggu. Ia baru saja kecelakaan motor, yang menyebabkan giginya goyang dan nyaris dicabut. Ia kesakitan jika makan. Bukan hanya itu, lututnya luka dan matanya serupa sudah ditinju, lebam. Dahi dan bibirnya pun ikut luka. Maka tak ada pilihan lain, ia harus rela berbaring di rumah kontrakannya, jauh dari sanak keluarga. Tapi kerisauannya karena tidak bisa jalan-jalan tersebut memberikan ia pelajaran yang berharga, seseorang dengan leluasa bisa meneleponnya. Berbagi rasa dan rindu, yang sangat sulit mereka temukan di hari Senin-Jumat karena teman saya tadi harus bekerja. Waktu luangnya hanya di hari Sabtu dan Minggu dan itupun dihabiskan dengan jalan-jalan bersama teman-temannya yang lain. Sehingga lelaki yang menaruh perhatian kepadanya akan sulit menghubunginya. Maka saat teman saya kecelakaan dan mengharuskan tinggal di rumah, lelaki tersebut leluasa meneleponnya dan mungkin dari peristiwa kecelakaan yang menyebabkannya risau tersebut karena tak bisa jalan-jalan, ia akan menemukan kekasih dalam diri lelaki tersebut.

Saat ini, saya sedang di halaman rumah kekasih ditemani lagu Pria Kesepian dari Sheila On 7. Dan saya sangat menikmati suasana ini, waktu ini. Ini adalah liburan sesungguhnya. Sekali lagi saya tidak yakin bahwa cara terbaik merayakan kebahagian adalah pesta dan jalan-jalan, ada banyak cara merayakannya, misalnya....

Rumah kekasih, 23 Januari 2016 


Halaman rumah kekasih, di bawah pohon mangga

Baca Lengkap

Asam dan Prof yang Tak Ingin Marah

Ada 0 Komentar
JEJARI…lagi dan lagi, saya tidak mencatat peristiwa itu, ketika Prof (demikian saya memanggil pemilik rumah kekasih) menelepon pada suatu pagi yang masih disisai kantuk. Seperti biasa dengan suara gelegar, beliau bertanya kabar saya bagaimana dan kondisi rumah bagaiman? Harusnya saya catat hari itu, hari dimana Prof menelepon karena ada pelajaran berharga yang diajarkan secara tidak langsung kepada saya, bagaimana menjaga perasaan seseorang.

Di akhir September tahun 2015 lalu, saat itu saya sedang tidak di rumah kekasih, bahkan sedang tidak berada di Sulawesi Selatan. Kisah tentang rumah kekasih pun berubah. Tak lagi sama ketika saya tinggalkan. Perubahannya amat drastis, hingga saya merasa asing sendiri ketika pertama datang. Di garasi telah terpasang tempat cuci piring, halaman rumah tepat di bawah pohon mangga telah cor dan cat rumah yang pucat berubah cerah, serta tambah bersih.

Di depan pagar, terdapat tumpukan pasir dan pagar tidak terkunci seperti biasanya. Hanya derit pagar besi dengan cat putih tak berubah, masih serak. Perlahan saya melangkah masuk ke halaman rumah. Pot-pot yang berserakan di halaman rumah telah dipindahkan ke tempat lain. Aroma cat menyambut tajam. Saya terpaku cukup lama, rasa capek perlahan hilang karena dikudeta oleh rasa asing. Rupanya kejutan tidak sampai di situ saja, ketika saya membuka pintu rumah, ratusan karung asam menyambut di ruang tamu.

Sejak akhir September tahun lalu itulah, wajah rumah kekasih berubah. Mulai akrab dengan aroma asam yang awalnya tampak kalem seperti tumpukan beras yang tidak akan mengeluarkan airnya. Namun beberapa hari kemudian, air perlahan menetes dan memenuhi tenda biru yang jadi alas karung-karung asam tersebut agar tidak bersentuhan langsung dengan lantai keramik putih. Satu atau dua minggu air asam hanya menggenangi tenda tersebut. Namun minggu-minggu berikutnya, airnya mulai melumari lantai dan saya memiliki kerjaan baru “ngepel” ngepel air asam tiap hari.

Kehadiran ratusan karung asam di rumah kekasih menjadi kisah tersendiri, menghadirkan gerah yang tak biasa, hampir merusak beberapa foto yang tergantung di dindingnya dan jadi sambutan keheranan jika ada yang bertamu. Karena asam itu pulalah Prof memberi saya pelajaran yang sangat penting. Bagaimana cara mengolah sesuatu yang “mungkin” menghadirkan kemarahan yang tak bisa ditahan, harus dimuntahkan.

Ketika pertama Prof berkunjung dan mendapati asam menyesaki ruang tamu. Ia geram dan memerintahkan agar asam tersebut segera dipindahkan, “beritahu siapa saja yang datang (yang punya kaitan dengan asam tersebut) agar segera memindahkannya, saya tidak mau melihatnya lagi jika berkunjung,” demikian ultimatum Prof. Saya hanya mengiyakan saja.

Entah berapa hari setelah kunjungan tersebut, Prof menelepon menanyakan kabar saya dan juga apakah asam sudah dipindahkan atau belum? Perintahnya tetap sama, segera dikosongkan rumah kekasih dari asam-asam tersebut. Prof tak mau terima alasan apapun. Saya kembali hanya mengiyakan. Prof paham saya tak punya kuasa atas asam itu.

Di satu sisi saya bersyukur dengan adanya asam tersebut, karena Prof sangat rajin menelepon, menanyakan kabar saya dan berakhir dengan perintah yang sama, perintah yang lebih tepat disebut permohonan yang sangat agar rumah kekasih terhindar dari aroma asam. Saya kadang ingin mengatakan kepada Prof, kenapa beliau tidak menelepon langsung ponakannya yang telah dijadikan anak angkatnya itu, pasti anaknya itu akan mendengarkannya.

Pertanyaan tersebut berkecamuk cukup lama dipikiran saya. Lalu kemudian, tibalah pagi itu, yang harusnya saya catat karena memberikan pelajaran yang besar kepada saya. Kantuk masih bertengger di mata saya, suara saya masih parau tapi karena Prof yang menelepon maka saya membuat suara saya “seindah” mungkin agar terhindar dari cap malas oleh Prof..hahahhahahahha.

Seperti biasa, pagi itu Prof menanyakan kabar saya dan asam tentunya, ketika saya jawab asam masih ada. Suaranya terdengar geram. Beliau memohon dengan sangat agar asam tersebut segera dipindahkan. Lagi-lagi saya bertanya kenapa tidak langsung saja beliau menelepon anaknya?

“Saya tidak bisa menelepon langsung anak saya (ponakan) karena saya pasti memarahi dia, saya tidak mau marah kepadanya, makanya saya menelepon kamu,” ungkap Prof, seakan tahu pertanyaan yang telah berkecambah lama di pikiran saya.

Saya tersentak kaget mendengar alasan Prof, betapa bijaknya, betapa penyayangnya orang tua itu. Betapa cintanya belaiu kepada ponakannya yang telah diangkat menjadi anak angkat sejak ponakannya tersebut masih kecil. Sungguh pagi itu, menjadi pagi yang sejuk bagi saya di antara aroma asam yang mengantar gerah. Prof mengajarkan bagaimana cara menghindari kemarahan, bagaimana menghargai perasaan orang lain, bahkan anak sendiri, tidak seharusnya dimarahi jika melakukan kekeliruan. Prof tak ingin anaknya terluka oleh amarahnya, beliau tak ingin menorehkan luka…

Vetaran Utara, 20 Januari 2016 


                                                 Asam di rumah kekasih..
Baca Lengkap

Kappo'

Ada 4 Komentar
Rasa pegal tubuhku masih benalu. Suara hilang ditelan tiga kota. Demam berkali-kali mengancam tapi tak pernah berhasil memalutku. Pagi ini aku mandi lebih awal. Mengusir pening di kepala yang sejak kemarin mulai bermukim. Semalam aku pun tidur lebih awal mengabaikan suasana Jogya dimalam hari. Pagi ini pula menjadi pagi kesekian tanpa kopi. Barangkali faktor tanpa kopi itulah yang buat kepala pening dan tubuh disesaki pegal.

Rasa pegal sepertinya akan betah di tubuhku, sebentar jelang siang, kembali harus menempuh perjalanan 10 jam menuju Surabaya lalu besok naik kapal sehari semalam menuju Makassar. Di Makassar, tak ada waktu untuk bermalas-malasan ditempat tidur--menghilangkan pegal di tubuh. Sebukit kesibukan telah menanti. Dan yang paling mengesankan adalah akan ada perjalanan kembali ke Bulukumba naik motor kurang lebih 4 jam, lalu satu dua hari kembali ke Makassar.

Sepertinya bulan September dan Oktober menjelma bulan perjalanan. Aku tak tahu sejauh mana tubuhku mampu bertahan melawan perjalanan itu. Jika tubuhku tak sanggup, aku hanya ingin berakhir dipelukmu, sebagai kekasih. Selain pegal, dan suara hilang ,satu hal lagi yang tak terhindarkan pagi ini, perut resek, terlalu manja untuk saja kamar belakang bagus. Jika saja perut ini resek saat di malang, dimana kamar belakang bermasalah, betapa mengerikannya.

Perjalanan tak punya sisi keseruan jika berjalan lancar, harus ada sakitnya. Jika ada bulan di tahun ini yang harus tercatat dalam sejarahku tentu adalah September dan Oktober serta bulan pergimu yang aku lupa bulan apa??

 Yogyakarta, 5/10/2015


Malang, Jawa Timur ketika itu bersama Ilham Achmad dan Akmal Salam




  • Malang, Jawa Timur ketika itu bersama Ilham Achmad dan Akmal Salam
Baca Lengkap

Cinta yang Binar

Ada 0 Komentar
“Saya kembali menemukan kekuatan cinta di mata kalian, penuh binar, penuh kebeningan. Selamat menempuh hidup baru. SAMAWAKI” 

Kurang lebih seperti itu, yang saya tulis pada kado pernikahan seorang teman. Kado yang tak terlalu istimewa. Ada kebiasan “buruk” yang menimpa saya sekarang. Memberikan kado kepada teman yang menikah berupa buku. Alasannya sederhana, buku bisa diwariskan ke anak-anak mereka kelak dan tentu saja bisa mencerdaskannya. Tapi alasan paling masuk akal adalah harga buku lebih murah apalagi jika ada diskon. Hahha.

Semalam saya menghadiri resepsi pernikahan teman “Aya’ dan Muhlis”. Mereka adalah sepasang kekasih yang telah bertahun menjalin hubungan asmara, yang tidak bisa dikatakan sangat mulus hingga sampai ke jenjang pernikahan. Banyak rintangan yang mereka hadapi, termasuk beberapa kali putus lalu nyambung kembali, juga diwarnai beberapa kali “perselingkuhan”. Rupanya tantangan itulah yang mematangkan hubungan mereka. Ujian masa pacaran berhasil dihadapinya, hingga menuju pada ijab Kabul dan mereka “Muhlis dan Aya’” kini menjadi sepasang suami istri yang di matanya berbinar cinta.

Tantangan cinta sesungguhnya baru mereka hadapi, sebab mereka tidak bisa lagi berlagak seperti ketika pacaran dulu, bisa putus nyambung dan juga selingkuh. Saat itu, belum ada ikatan di antara keduanya. Jika berpisah statusnya tidak akan berubah, belum melibatkan dua keluarga besar yang telah berjuang menyatukan cinta mereka.

Kita tentu tahu, adat Bugis-Makassar untuk menyatukan sepasang kekasih yang saling mencintai tidaklah mudah. Ada rintangan yang berduri harus dilewati, bukan hanya rintangan restu tapi juga rintangan adat berupa uang panai, yang kadang memberatkan dan tak berprikemanusian. Tapi seperti itulah, adat hadir untuk membuat manusia saling menghargai satu sama lain. Uang panai adalah wujud penghargaan lelaki kepada perempuan dan kasih sayang orang tua kepada anak lelakinya, yang rela merogoh saku dalam-dalam demi kebahagian anaknya.

Banyak orang mengatakan bahwa menikah adalah wujud cinta yang paling nyata bagi seorang lelaki kepada perempuan dan begitupun sebaliknya. Saling mencintai harus diakhiri dengan pernikahan. Rasanya itu benar meski bagi saya tak sepenuhnya benar. Pernikahan bukanlah satu-satunya wujud nyata cinta. Tapi banyak cara, yang lebih brutal adalah saling melukai, saling meninggalkan.

Bagi saya, tidaklah penting seberapa besar sesorang mencintai kita, tapi seberapa lama ia mampu bertahan mencintai kita. Dan saya sangat yakin, Muhlis sanggup bertahan lama mencintai Aya’ dan Aya’ akan cukup tangguh dalam waktu yang lama mencintai Muhlis hingga keduanya tak lagi cukup menampung cintanya. Kenapa saya mengatakan itu, sebab mereka telah melewati rintangan cinta yang rumit selama bertahun-tahun. Dan apapun itu..selamat buat kalian. Cinta kalian penuh binar, penuh kebeningan..teruslah begitu…

Veteran Utara, 13 Agustus 2015


                                                                      Muhlis dan Aya 
Baca Lengkap

Vhy

Ada 0 Komentar
Harian Fajar, 8 November 2015Musim akan segera berubah. Ribuan kunang-kunang telah hijrah ke matanya. Itu tanda kemarau akan beralih ke musim basah. Tempat paling aman bagi kunang-kunang berlindung dari guyuran hujan adalah matanya. Di sana ada sebatang pohon yang rimbun—pohon cinta. Tapi tak mudah menemukan pohon itu. Tersembunyi cukup dalam dan rahasia. Belum ada yang mampu menembus rintangannya—sebuah labirin mencekam.

Memasuki matanya, sama saja memasuki ruang kematian yang tak kenal batas. Konon mata yang selalu dihijrahi kunang-kunang tiap jelang pergantian musim itu adalah mata perempuan. Dan perempuan itu senang menari bersama kunang-kunang. Tentu saja makhluk kecil berkelip itu akan riang menemukan tempat dan teman menari. Banyak orang mencoba menerabas ingin sampai ke matanya, tapi jatuh terpental dan gagal.

Sore beranjak ke senja. Dua lelaki, satu di antaranya bertubuh kurus masih berusaha menuntaskan tegukan terakhir kopinya. Percakapan mereka campur aduk, tapi berakhir pada satu arah. Perempuan yang di matanya membiak kunang-kunang.

“Aku pernah melihat perempuan itu menari, mungkin sedang menarikan tari pakarena. Tariannya gemulai, matanya berbinar, liukan tubuhnya lembut. Aku lupa berkedip ketika melihatnya menari,” jelas Busran, lelaki berkulit biji cengkeh yang telah dijemur. Lelaki kurus itu mendengarnya dengan takjub. Ia belum pernah menyaksikan seorang perempuan menari segemulai yang diceritakan Busran. Rasa penasarannya tumbuh—sangat subur.


 “Saat menari, kunang-kunang berhamburan dari matanya. Itu pementasan tari pakarena yang paling tak terlupakan,” lanjut Busran. Matanya kosong seakan menghadirkan kembali adegan tarian yang disaksikannya tersebut. Sejak Busran melihat tarian itu, ia jatuh cinta pada tarian. Tapi ia berkali-kali pula kecewa karena gagal menemukan tarian segemulai seperti yang pernah disaksikannya, dengan perempuan yang di matanya menghambur kunang-kunang.

 “Siapa nama perempuan itu?” tanya lelaki kurus tersebut.
“Tak ada yang tahu, orang-orang hanya memanggilnya, Vhy,” jawab Busran.

Percakapan itu berhenti. Senja datang terlalu cepat dan lelaki kurus tersebut harus pulang. Ia ingin menyaksikan kunang-kunang menari di antara pohon cengkeh. Dan ia ingin mengikuti kunang-kunang tersebut kemana pun pergi menyelamatkan dirinya dari musim basah. Jika benar pernyataan Busran, ada kemungkinan makhluk berkelip itu akan menuju ke mata perempuan penari tersebut.

Vhy, semalaman nama tersebut terus saja hadir dalam igaunnya. Ia berkali-kali terjaga. Besoknya, ia telat bangun. Matanya merah dan berkli-kali ia menguap. Ia menuju dapur—menyeduh kopi sendiri. Tapi sial baginya, gula telah habis. Tak ada jalan lain. Ia harus rela menyeruput kopi tanpa gul pagi itu. Saat ia menyeruputnya, bayangan ayahnya berlalu lintas. Ayahnya akan batu-batuk jika minum kopi yang bergula.

Suatu ketika, ada hajatan keluarga. Ayahnya menghadari hajatan tersebut dan disuguhi kopi yang telah menyatu dengan gula. Tak ada alasan untuk menolak. Ayahnya jadi tamu yang menghormati apa yang disuguhkan tuan rumah. Ayahnya tak ingin merepotkan atau dianggap pilih-pilih. Maka diseruputlah kopi tersebut. Dan sesampai di rumah, ayahnya batuk-batuk. Seminggu ayahnya tak bisa tidur karena batuk, hingga ia jatuh sakit. Kini ayahnya hanya terbaring lunglai di tempat tidur. Tubuhnya rapuh digerayangi batuk.

*****


Busran datang ke rumahnya jelang siang. Wajahnya kusut, sebatang rokok bertengger mengerikan di bibirnya—lupa dihisap.

“Semalam kunang-kunang bergerak ke arah sana,” ujarnya sambil menunjuk ke arah timur. Di mana awan sedang bertarung menghalangi matahari.
“Terus?” tanya kelaki kurus itu.
 “Mungkin akan menuju mata perempuan penari itu.”
 “Hahahahhaha jangan ngaco, Bus, tak mungkin ada kunang-kunang yang bisa tinggal di mata seseorang.” “Konon di matanya ada sebatang pohon yang rindang, tempat membiak kunang-kunang.” Lelaki kurus tersebut terperangah. Jadi benar cerita ayahnya, jika ada seeorang perempuan yang matanya dihuni kunang-kunang. “Iya, saya pernah dengar dongeng itu dari ayahku, tapi itu hanya dongeng.”
 “Itu bukan dongeng, bukankah kemarin saya ceritakan, saya pernah melihat perempuan yang di matanya menghambur kunang-kunang.”

Keduanya terdiam. Menerka berbagai kemungkinan. Mata lelaki kurus itu berbinar. Ide gila muncul di kepalanya. Tapi tak dibocorkannya kepada Busran. Ia ingin melakukan misi mustahil itu seorang diri.

Mengikuti kemana kunang-kunang tersebut hijrah. Ia telah bertekad akan mengikuti kunang-kunang tersebut sebentar malam ke arah sana, seperti yang ditunjukkan Busran tadi. Mungkin itu arah menuju Vhy, menuju matanya.

 ******

 Berkali-kali ia ta’buttu, malam terlalu pekat. Tak ada penerang, karena jika memakai obor atau senter kunang-kunang akan menghilang. Ia terus saja mengikuti rombongan kunang-kunang tersebut. Malam kian cekam tapi tak ada alasan berhenti. Jika berhenti ia akan kehilanga jejak. Semalam perjalanan terasa berat. Kakinya berdarah. Berkali-kali ia jatuh tapi tak menyerah. Ia ingin temukan dimana kunang-kunang tersebut membiak. Ia ingin buktikan apa yang diyakini ayahnya dan yang diceritakan Busran.

Rasa takutnya hilang, kian malam kerlipan kunang-kunang kian terang. Dan jelang pagi, kunang-kunang menghilang. Suara ricik air mengisyaratkan ia sedang berada di pinggir sungai pagi itu. Direbahkannya tubuhnya yang lelah. Ia tiba-tiba benci terang karena menghilangkan kunang-kunang. Saat malam, kunang-kunang kembali muncul. Sangat banyak dan ia terus saja mengikutinya. Jika siang ia akan berhenti karena kehilangan jejak dan malam ia akan berjalan semalaman penuh.

Delapan malam ia berjalan mengikuti kunang-kunang tersebut, namun belum juga sampai. Kakinya membengkak dan tubuhnya payah dicumbui lelah. Tapi ia tak ingin berhenti. Ia ingin sampai ke mata Vhy. Malam kesembilan ia memasuki sebuah kampung. Suara gendang dan puik-puik menyambutnya. Kunang-kunang kian banyak dan gerakannya makin cepat. Ia berlari mengikutinya. Hingga ia sampai pada sebuah rumah. Terang benderang, padahal lampu telah dipadamkan. Ia mengintip apa yang terjadi, dan ia menyaksikan seseorang perempuan di matanya dipenuhi kunang-kunang.

Matanya binar, serupa dipasangi lampu berwatt-watt. Tajam menggetarkan. Rambutnya hitam pekat sedikit bergelombang. Hidungnya tidak terlalu mancung tapi serasi dengan wajahnya. Alisnya melintang semut. Tingginya sekira 162 cm, gerakan tubuhnya terlihat awas tapi lembut. Mengagumkan sekaligus membuat jantung lelaki kurus itu serasa palpitasi.

Perempuan itu terus menari dengan gemulai. Di matanya tumbuh sebatang pohon yang rimbun—“Itukah pohon cinta yang penah diceritakan Ayah,” pikirnya. Tiba-tiba saja tubuh lelaki kurus itu serasa ringan. Ia terbang dan berubah kunang-kunang—lalu masuk ke mata perempuan itu. Ia merasakan kehidupan dan juga kematian berkali-kali di mata Vhy.  

Makassar, 8 September 2015

Cat: Dimuat di Harian Fajar, 8 November 2015 
Baca Lengkap

Perjalanan Tiga Sekawan

Ada 1 Komentar
Dunia akan luas dengan melangkah.... Kisah perjalanan tiga sekawan.


Perjalanan

Baca Lengkap

Seperti Kamu yang Sedang Ulang Tahun

Ada 0 Komentar
rasanya terlalu manja, jika kusebut namamu pada tiap doa
memantul dari masa menuju masa; pelukmu
sedari dulu aku tak beranjak dari sini, pada bekas tatapmu di mata
sesekali singgahlah; jelmakan jauh jadi dekap

kita pernah bertukar liur pada permen bergagang putih itu
kau celupkan ke mulutmu
lalu aku susupkan ke mulutku
tak ada rasa amis---hanya manis,
seperti itukah ciuman tanpa menggigit bibir, tanpa tergesa

aku ingin kau menangis di depan lilin yang lupa dinyalakan
korek tertinggal di kampung, di dapur ibu
usia tak pernah menghitung dirinya sendiri
dan kita tak pernah menangisi detik—mencuri usia kita

aku takut kehilanganmu
kau takut aku pergi—lagi dan lagi
kehilangan selalu menakutkan
tapi kita tak pernah takut kehilangan usia tiap detiknya
…..tak ada yang repot mencarinya di lipatan kenangan
pada buku SD di bawah laci meja

seperti kamu yang sedang ulang tahun
jarak antara masa lalu dan sekarang
 rentan jadi sebuah penyesalan
jadi andai yang panjang

sejak semalam aku ingin menulis puisi untukmu
ketika detak isyaratkan usiamu menuju angka baru
dimana kamu dari asing menjelma segala yang mungkin dinamai kekasih
dimana aku hanya ingin mencintaimu dengan walaupun
hingga napas Tuhan yang terakhir

tapi tak ada puisi untukmu, tak ada. hanya ada aku dan kamu menuju dekat

Rumah kekasih, 10 Januari 2016



Baca Lengkap

Mencari Perempuan Bugis-Makassar

Ada 0 Komentar
Pada sebuah sempat,  saya memasang foto kamar saya  yang berantakan karena sedang dicat  di BlackBerry Messenger (BBM). Saya memberi keterangan (status) pada foto tersebut, “kamar ini sepertinya butuh sentuhan perempuan.” Saya juga menambahkan dua emoticon tertawa.

Seorang teman BBM saya mengomentarinya, “Halalkan cepat perempuanmu.” Saya hanya mengirimkan emotion senyum kepadanya. Ia membalasnya, “kenapa senyum?” Saya memutuskan mendiamkannya beberapa saat. Saya kembali sibuk mengecat kamar saya. Rasa capek setelah beraktivitas seharian membuat saya ingin cepat mengusaikannya lalu tidur.

Saat membenahi kamar, saya terusik dengan saran teman saya itu. Ia tinggal di luar Sulawesi Selatan (Sulsel) tepatnya  di Denpasar, Bali. (Jangan tanyakan kenapa saya bisa dapat pin BBMnya, sebab saya juga tidak tahu). Aktivitas mengecat kamar saya hentikan. Saya kemudian mencuci tangan. Membiarkan aroma cat memenuhi kamar saya, membiarkan peralatan yang saya gunakan berserakan. Saya membaringkan tubuh kurus saya. Rasa capek menyergapnya.

“Sedang mencari perempuan yang akan dihalalkan,” balas saya kemudian sambil berbaring.
“Kan banyak tuh perempuan di kampung kamu, masa’ tidak ada yang mau?” balasnya lagi.
“Mencari perempuan Bugis-Makassar tidak hanya mencari perempuan yang akan menjadi pendamping hidup, tapi juga harus mencari sejumlah uang untuk menghalalkannya berupa uang panai, ” balas saya.
“Saya tak mengerti,” balasnya.

“Tidak mudah menghalalkan perempuan Bugis-Makassar,”  balas  saya lagi. Lalu percakapan (chat) kami berlanjut, diskusi ringan jarak jauh. Teman saya itu menawarkan diri menjadi perempuan Bugis-Makassar. Dia ingin seberuntung perempuan Bugis-Makassar yang dihormati oleh lelaki dalam bentuk uang panai’ yang jumlahnya bisa menyentuh angka ratusan juta rupiah. Dan saya ingin menjadi lelaki Denpasar, yang “mungkin” jika ingin menghalalkan perempuannya tidak serumit dalam masyarakat saya.
Saya mencoba pahami perasaan teman saya itu, sebagai perempuan tentu dia ingin memiliki lelaki yang rela membuktikan cintanya dalam bentuk yang lebih besar. Ingin diperlakukan istimewa dan dihargai.  Uang panai’ bukanlah sebuah upaya untuk membeli perempuan dari keluarganya. Bukan pula sekadar untuk membiayai pesta pihak perempuan. Tapi uang panai adalah salah satu bukti mengistimewakan dan menghargai perempuan.

Uang panai adalah upaya pembuktian cinta yang besar. Tidak sedikit lelaki yang rela mengorbankan apa saja demi menghalalkan perempuan yang dicintainya untuk diikat dalam  ijab Kabul. Jika cinta sejati adalah pembuktian, adalah pernikahan. Maka lelaki yang menikahi perempuan Bugis-Makassar dengan alur adat yang seharusnya adalah pejuang cinta sejati sesungguhnya.

Uang panai menjadi fenomena tersendiri. Banyak dibincangkan, bahkan menjadi lelucon. Seorang teman pernah bergurau bahwa investasi paling baik dan menjanjikan sekarang ini adalah tanah, rumah dan anak perempuan. Gurauan tersebut saya hanya tanggapi dengan tertawa, tapi memiliki anak perempuan sebagai sebuah investasi orang tua dalam masyarakat Bugis-Makassar juga ada benarnya. Meski menjaga satu anak perempuan, kata sebagian orang lebih sulit  daripada menjaga puluhan kerbau.

Chat kami terus berlanjut malam  itu. Berkali-kali teman BBM saya tersebut mengungkapkan kekagumannya terhadap budaya Bugis-Makassar yang sangat menghormati perempuan-- yang dibuktikan dengan uang panai. Sebuah bukti kerelaan dan tanggung jawab dari calon suami. Saya katakan kepadanya bahwa keberadaan uang panai bukan tanpa cacat. Tidak sedikit  pasangan kekasih rela mengubur impiannya membina rumah tangga karena ketidakcocokan uang panai. Banyak  rela silariang (kawin lari) menantang maut, melupakan malam paccing, melupakan suara gendang Makassar,  dan meninggalkan kampung halamamnya hanya karena uang panai’.

Perempuan adalah salah satu sumber sirik paling besar dalam masyarakat Bugis-Makassar. Tidak sedikit terjadi pertumpahan darah hanya gara-gara perempuan. Misalnya dalam kasus silariang, pihak perempuanlah yang paling terkena dampak siri’ yang disebut tomasiri (orang yang dipermalukan).  Dalam hal silariang, seorang lelaki bisa dengan leluasa bertemu keluarganya, bahkan tinggal di rumah keluarganya selama silariang, sementara pihak perempuan tidak bisa melakukan hal tersebut.  

Seorang lelaki yang menikahi perempuan Bugis-Makassar dengan alur yang semestinya. Haruslah berbangga diri, karena telah membuktikan satu bukti cinta yang besar.  Saya yakin, pihak perempuan tahu bagaimana susahnya pihak lelaki mencari uang panai demi  dirinya, demi cinta mereka. Maka sudah seharusnya uang panai menjadi tameng untuk mengawetkan kehidupan berumah tangga. 

Percakapan kami via BBM terus mengalir hingga malam jatuh pada titik larutnya yang sepi. Saya melupakan rasa capek karena seharian beraktivitas. Sebelum kami mengakhir chat malam itu karena dikalahkan kantuk. Teman saya tersebut tetap menunjukkan kengototannya ingin menjadi perempuan Bugis-Makassar. 


Rumah kekasih,  2015



















Cat: Dimuat di Harian Fajar, 20 Desember 2015
Baca Lengkap

Google+

Isi Blog