Sefek, Menjawab Cemooh dengan Gadis Cantik Bernama Novi

Ada 0 Komentar
JEJARI…Jika memikirkan hidup, kita akan temukan bahwa dalam hidup ini banyak kerumitan yang terjadi. Banyak hal yang menurut “pikiran” kita tidak masuk akal untuk terjadi. Tapi barangkali begitulah cara hidup mengindahkan dirinya-berlayar dalam misterinya. Lalu manusia berjibaku dengan berbagai teori untuk membuatnya sedikit lebih mudah. Memikirkan persoalan hidup tak pernah ada titik tepinya. “pusing tujuh keliling,” adalah salah satu ungkapan pembuktian jika hidup ini memang rumit. Kenapa hidup rumit dan susah, karena ada keinginan, sayangnya keinginan tidak selamanya berjalan seiring dengan kenyataan yang didapat pada lapangan yang bernama kehidupan.

Namun, serumit apapun hidup, ia terus saja berjalan karena waktu tak pernah berhenti menunggu, bahkan sekadar menunggu kita melepas tali sepatu. Kehidupan dan waktu adalah dua hal yang tak terpisahkan, dimana ada hidup di situ ada waktu yang terus bergerak tanpa bisa ditawar. Namun kerumitan hidup jika dipikirkan akan berhenti, jika kita tahu atau menyadari ada takdir yang bekerja dalam diri tiap orang pada ranah kehidupan ini. Cara takdir bekerja tidak terduga dan juga sulit untuk ditawar.

Bagi saya, seseorang tak pernah bisa dipisahkan dari takdirnya, namun takdir tidak serta merta bekerja sesuai keinginannya, harus ada jembatan yang menghubungkannya (usaha dan perilaku). Joko Widodo tentu telah ditakdirkan menjadi presiden ke tujuh Indonesia, tapi Joko Widodo tak akan mungkin jadi presiden jika ia tidak berusaha menjadi presiden. Seseorang yang ditakdirkan menjadi dosen tidak bisa langsung saja menjadi dosen, ada proses panjang untuk menemui takdirnya menjadi seorang dosen. Richard dalam film Legend Of The Seeker, telah ditakdirkan menjadi The Seeker namun ia butuh proses untuk mewujudkan takdirnya tersebut. Bahkan berulang kali ia mengalami kegagalan.

Saya juga percaya, bahwa seseorang yang memiliki kekasih atau istri adalah orang yang telah ditakdirkan untuk menemukannya. Saya punya teman, namanya Tiar tapi saya biasa memanggilnya Sefek. Ia seorang lelaki yang pendiam dan belum bisa menyelesaikan kuliahnya di sebuah perguruan tinggi swasta di Makassar. Saya mengenalnya secara tak sengaja, saya lupa bagaimana bisa kenal dengannya, bagaimana wajah pertemuan pertama saya dengan Sefek, saya benar-benar tak ingat. Tapi takdir pertemuan pertama itu membuka lembar-lembar pertemuan berikutnya. Hingga akhirnya kami akrab, acap minum kopi bersama bahkan lapar bersama pula.
Sefek sering menjadi bahan cemooh (candaan) teman-teman karena keunikannya. Pernah disuatu subuh di bulan Ramadan, saat ingin makan sahur. Kami mengumpulkan uang secara patungan dan saat itu terkumpul uang sebanyak RP. 15.000.  Sefek yang mendapat “jatah” keluar membeli lauk dan air minum untuk sahur, tapi ketika pulang ia membawa satu kantong besar air minum kemasan. Ia membeli air gelas kemasan sebanyak RP. 15.000, yang jadi bahan tertawaan kenapa tidak membeli satu dos sekalian yang harnya Cuma RP. 11. 000. Bukan hanya air gelas kisah lucu dan kekonyolan Sefek- sangat banyak.

Selain kisah air kemasan itu, Sefek juga acap jadi bahan candaan karena postur tubuhnya yang kecil. Jika kegagahan seorang lelaki diukur dari tnggi badan, hidung mancung, rambut lurus, mata elang jawa yang tajam, kulit putih, badan atletis dan sedikit brewok, maka Sefek tidak masuk ke dalam ukuran kegagahan itu, karena semua ukuran kegagahan tersebut tidak ada dalam dirinya. Barangkali karena faktor itulah sehingga Sefek menjadi bahan empuk menjadi materi candaan teman-teman. Namun jika kegagahan seorang lelaki adalah menikah (memiliki istri) dan anak, maka Sefek adalah cerminan kegagahan lelaki yang sempurna. Beberapa hari yang lalu, sefek menjawab cemooh itu dengan seorang gadis cantik bernama Novi, itu buah cinta dari pernikahannya dan merupakan anak pertamanya. Ketika berita pernikahan Sefek terdengar, banyak yang tidak percaya. Tapi sekali lagi takdir selalu berkerja dalam kehidupan seseorang dan Sefek menemukan takdirnya menikahi perempuan yang dicintainya, keduanmya pacaran sekitar dua tahun lebih.

Zaman sekarang, pacaran menjadi jalan terdekat menuju pernikahan, meski tidak ada jaminan jika pacaran akan berakhir dengan pernikahan, sama halnya sakit adalah jalan terdekat menuju kematian, meski tidak ada pula jaminan orang yang sakit akan lebih duluan meninggal daripada orang yang sehat. Tapi telah saya katakan di atas, bahwa takdir tidak bekerja dengan serta merta. Begitupun pernikahan dan kematian selalu diwarnai dengan sebab.

Jika saja Sefek tidak memperbaharui pertemuan pertamanya dengan perempuan yang jadi istrinya sekarang dengan cara menjalin komunikasi lalu pacaran. Pasti akan sulit keduanya bisa melanggeng lancar menuju pernikahan dan tentu saja gadis kecil yang cantik bernama Novi tidak akan ada dalam kamus kehidupan keduanya.

Saat ini, saya juga sedang menjalani ‘takdirku” sendiri di rumah kekasih. Menikmati segala sepinya, namun “takdir” kesendirian ini bisa saja berubah jika saya putuskan keluar rumah lalu mengunjungi kos teman atau saya menelepon mereka untuk datang menemaniku, tapi saya tidak melakukannya saya hanya memutuskan di temani lagu dari Tommi J Pisa. Hidup memang kadang-kadang sangat rumit jika kita tidak bisa berdamai dengan diri sendiri. Perihal takdir, saya berpikir ada takdir seseorang yang bisa diajak berdamai dan ada takdir yang tidak bisa diajak kompromi. Namun apapun itu, Sefek sedang menjalani takdirnya menjadi seorang Ayah, atas gadis cantik bernama Novi.

Rumah Kekasih, 10/9/2014

 
































Bahtiar Sefek bersama anak pertamanya, Novi
Baca Lengkap

Google+

Isi Blog